Gizi Buruk ‘Hantui’ Kota yang Dipimpin Risma

GIZI BURUK MARASMUS: ASN, bocah 10 tahun warga Surabaya ini menderita gizi buruk tipe marasmus. | Foto: IST
GIZI BURUK MARASMUS: ASN, bocah 10 tahun warga Surabaya ini disebut-sebut menderita gizi buruk tipe marasmus. | Foto: IST

Predikatnya Kota Layak Anak. APBD-nya mencapai Rp 9,118 triliun. Ironis! Surabaya yang dipimpin Tri Rismaharini justru ‘dihantui’ gizi buruk.

SENIN malam, 23 Juli 2018, di Gedung Dyandra Convention Hall, Surabaya. Untuk kali kedua, Surabaya meraih predikat Kota Layak Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Penghargaan yang sama diraih tahun sebelumnya. Nilainya pun tertinggi: Kategori utama.

Selama seminggu lebih, Wali Kota Tri Rismaharini panen pujian. Terlebih penghargaan itu kian menambah panjang daftar ‘trofi’ yang diraih perempuan yang akrab disapa Risma tersebut.

Tapi predikat Surabaya sebagai sebagai Kota Layak Anak, sepertinya layak dikaji ulang. Faktanya, dengan kekuatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mencapai Rp 9,118 triliun, ternyata di Kota Pahlawan masih dijumpai anak dengan gizi buruk.

• Baca: Kasihan! Disebut Puti Alami Gizi Buruk, Keluarga Ini Kena “Bully”

Kasus ini terungkap saat bacah 10 tahun berinisial ASN yang dikabarkan mengalami gizi buruk, viral di media sosial (Medsos) dalam beberapa hari terakhir. Sedihnya lagi, seolah tak terdeteksi, sudah dua tahun ASN hanya berbaring dan duduk di kamarnya.

Bocah kelas 1 SD ini tinggal bersama orang tuanya, Eko Basuki (33) dan Alfiyahtus Djupriyah (30), indekos di Jalan Kedung Baruk 67, Kecamatan Rungkut, Surabaya.

Sebelum dikabarkan mengalami gizi buruk, awalnya ASN demam tinggi saat usianya masih tujuh tahun. Meski sudah diperiksakan ke dokter, demamnya tak kunjung turun dan kian memburuk hingga kini tergolek lemah di pembaringan.

• Baca: Bupati Lamongan Terusik Data Angka Gizi Buruk Kronis

Publik pun — tak hanya warga Surabaya — terbelalak. Dengan kekuatan APBD mencapai Rp 9,118 triliun, sekali lagi, seharusnya kasus gizi buruk tidak sampai terjadi di Kota Pahlawan. Lebih-lebih wali kotanya sarat trofi penghargaan, plus Surabaya dinobatkan sebagai Kota Layak Anak.

Namun anggota Komisi D DPRD Surabaya, Dyah Katarina menepis kalau ASN mengalami gizi buruk. Menurut politikus PDI Perjuangan itu, dilihat dari kasusnya, si bocah diduga hanya mengalami sakit.

“Sebelumnya kita perlu bedakan dulu, kasus gizi buruk dan sakit. Kalau indikasinya gizi buruk itu tubuhnya tidak bisa menerima makanan dan nutrisi,” katanya saat dihubungi wartawan, Selasa (31/7).

• Baca: Stunting di Lamongan, Dinkes Jatim Tepis Data TNP2K

Selain itu, tambah Dyah, seorang anak bisa divonis gizi buruk, juga bisa diindikasikan karena adanya dugaan penelantaran dari orang tua.

“Enggak dikasih makan, misalnya,” lanjut politikus yang istri Ketua Bappilu DPP PDIP, Bambang Dwi Hartono (DH) tersebut.

• Baca: Jumlah Balita Kurang Gizi Kronis di Jatim Terus Menurun

Selama ini, klaim Dyah, kader Posyandu di Kota Surabaya sudah bergerak maksimal untuk mendeteksi masyarakat yang memiliki balita. “Kalau masih ada temuan berarti ada yang tidak maksimal di bawahnya,” tandasnya.

Dyah melihat kasus ASN ini lebih disebabkan dugaan sakit. “Seharusnya Dinkes bisa segera melakukan pemeriksaan kesehatannya dulu. Apakah dia sakit, atau karena kekurangan gizi. Kata budenya, ASN ini doyan makan. Berarti tubuhnya masih bisa menerima asupan makanan,” paparnya.

Kesaksian Anggota DPRD

BEDA CARA PANDANG: Reni Astuti (kiri) dan Dyah Katarina, beda cara pandang soal bocah penderita gizi buruk di Surabaya. | Foto: IST
BEDA CARA PANDANG: Reni Astuti (kiri) dan Dyah Katarina, beda cara pandang soal bocah penderita gizi buruk di Kedung Baruk, Surabaya. | Foto: IST

Pernyataan berbeda justru disampaikan Reni Astuti, kolega Dyah di Komisi D yang datang langsung menjenguk ASN di Kedung Baruk, untuk memastikan kebenaran informasi yang viral di Medsos.

“Ternyata hal itu benar (mengalami gizi buruk), memang ada warga ber-KTP Surabaya terkena gizi buruk,” tuturnya kepada wartawan usai menjenguk ASN, Senin (30/7).

Reni menambahkan, mengacu keterangan dari orang tua bocah, ASN sempat sekolah sampai kelas 1 SD hingga akhirnya teridentifikasi terkena penyakit.

• Baca: Cak Anam: Layanan Publik Pemkot Surabaya Jelek Sekali!

“Kata Pak Eko (orang tua korban) setelah di bawa ke rumah sakit dr Soewandi (milik Pemkot Surabaya), anaknya didiagnosa dokter terkena penyakit lupus tapi ternyata bukan, melainkan terkena ginjal,” bebernya.

Reni menambahkan, saat ini ASN sudah tertangani dan melakukan perawatan intensif seminggu tiga kali. “Ini kan warga Surabaya, pelayanan kesehatanya harus lebih diperhatikan lagi oleh Pemkot Surabaya,” kata politikus PKS itu.

Gizi Buruk Marasmus

GIZI BURUK DI SURABAYA: Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Reni Astuti (berjilbab) saat mengunjungi ASN di Kedung Baruk, Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/NANTHA LINTANG
GIZI BURUK DI SURABAYA: Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Reni Astuti (berjilbab) saat mengunjungi ASN di Kedung Baruk, Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/NANTHA LINTANG

Pernyataan Reni senada dengan ibu ASN, Alfiyahtus. Menurutnya usai viral di Medsos beberapa minggu lalu, Pemot Surabaya lantas memberikan bantuan dan fasilitas kesehatan.

“Beberapa minggu lalu sudah dikunjungi petugas kesehatan. Sampai akhirnya anak saya di bawa ke RS Soewandhi,” katanya.

• Baca: Pengamat: Tak Perlu Menggebu-gebu, Cool saja Bu Risma!

Alfiyahtus hanya bisa pasrah, saat anaknya dibawa ke RS untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Ternyata anak saya divonis mengidap gizi buruk Marasmus,” tandas perempuan yang bekerja sebagai buruh rokok di Surabaya itu, sembari mengusap air matanya.

Gizi buruk tipe Marasmus merupakan keadaan, dimana seorang anak mengalami defisiensi energi dan protein. Umumnya kondisi ini dialami masyarakat yang menderita kelaparan, atau pemberian makanan tidak cukup alias higiene yang jelek.