Cak Anam: Layanan Publik Pemkot Surabaya Jelek Sekali!

KECEWA LAYAKAN PUBLIK PEMKOT: Cak Anam saat mendatangi Balai Kota Pemkot Surabaya. Layanan Pemkot Surabaya jelek sekali. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
KECEWA LAYAKAN PUBLIK PEMKOT: Cak Anam saat mendatangi Balai Kota Pemkot Surabaya. Layanan Pemkot Surabaya jelek sekali. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Dewan Kurator Museum Nahdlatul Ulama (NU), Choirul Anam tiba-tiba mendatangi Balai Kota Surabaya, Selasa (26/6). Kedatangannya untuk menanyakan surat permohonan keterangan tertulisnya kepada Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.

Ini setelah salah seorang tetangganya di Kelurahan Kutisari, mengabarkan adanya pejabat Pemkot yang bertanya ikhwal permohonan keterangan wilayah tentang administrasi antara Kecamatan Rungkut dan Kecamatan Gayungan, dimana di atasnya berdiri Gedung Museum NU, Graha Ansor, Gedung PAUD-TK, Graha Astra Nawa serta Masjid Ababil.

Surat permohonan tersebut sudah dikirim enam bulan lalu, sampai sekarang belum dijawab. Ironisnya ada pejabat Pemkot Surabaya bertanya kepada tetangganya.

• Baca: Surat Dicueki Risma, Cak Anam Demo Tunggal ke Balai Kota

“Lho kok bisa? Ini birokrasi macam apa? Bukannya dijawab malah bertanya kepada orang lain yang, jelas-jelas tidak paham masalahnya. Karena itu saya sempatkan datang ke Pemkot,” jelasnya kepada wartawan.

Awalnya, kata Cak Anam — panggilan akrabnya — ingin bertemu langsung dengan Tri Rismaharini (Risma). Tetapi karena jadwalnya padat, sehingga harus menulis surat terlebih dahulu.

“Di bagian penerimaan surat, saya sempat kritik, jaman sudah begini kok ada birokrasi berbelit-belit. Ketika kita jelaskan bahwa semalam ada pejabat Pemkot bertanya isi surat itu, dan kita akan bicara ke wartawan, baru ada disposisi ketemu biro pemerintahan,” tambahnya.

• Baca: Cak Anam: Enggak Pakai Kalau, Risma Enggak Maju Gubernur

Lucu lagi, lanjut Cak Anam, Kabag Biro Pemerintah tidak bisa ditemui karena sedang sibuk. Melalui stafnya bernama Kartiko, justru minta sertifikat tanah.

“Layanan publik yang jelek sekali. Kita hanya bisa bertemu di ruang tunggu, itu pun dengan engkel-engkelan. Apa perlunya minta sertifikat? Apa pula motifnya pejabat Pemkot sibuk tanya ke tetangga. Tidak masuk akal, saya merasa dikorbankan dengan birokrasi yang payah ini,” tegasnya.

Padahal, menurut mantan Ketua GP Ansor Jatim itu, yang diminta tidak neko-neko, hanya surat keterangan. Hal yang sama sudah dimintakan ke camat Gayungan dan langsung dijawab. Cuma karena dibutuhkan tingkat Pemkot, maka penjelasan Pemkot menjadi penting.

• Baca: Cak Anam: PKB-Ipul Cuma Manfaatkan Kiai di Pilgub Jatim

“Saya ini pendukung Risma. Dia juga dikenal sebagai wali kota yang hebat. Tetapi birokrasi seperti ini tidak boleh terjadi. Ke depan layanan publik menjadi ukuran, sejauh mana pejabat itu peka terhadap masalah rakyatnya,” jelasnya.

Sedianya Cak Anam diantar ratusan warga mendatangi Pemkot Surabaya. Tetapi, mantan wartawan Majalah Tempo ini ingin menghadap sendiri. Akhirnya dukungan warga itu diberikan melalui surat resmi, bentuknya permohonan penjelasan tertulis kepada Risma tertanggal 22 Juni 2018.