Stunting di Lamongan, Dinkes Jatim Tepis Data TNP2K

BANTAH DATA TNP2K: Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Kohar Hari Santoso, angka stunting di Lamongan masih lebih baik dari angka Jatim dan nasional. | Foto: Barometerjatim.com/ HAMIM ANWAR

LAMONGAN, Barometerjatim.com – Tak hanya Bupati Fadeli, data yang dirilis Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) juga dibantah Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Kohar Hari Santoso.

Jika TNP2K merilis angka gizi buruk kronis (stunting) di Lamongan masih tinggi, sebaliknya Kohar menyebut angka stunting di Kota Soto tersebut masih lebih baik dari angka di Jatim dan nasional.

“Data kami, tentang Lamongan, ternyata angka Lamongan 25,2 persen, angka nasional 27,5, persen dan angka Jatim 26,1 persen. Lamongan lebih bagus dibandingkan nasional dan Jatim,” tandasnya saat menghadiri acara open data publik Dinas Kesehatan Lamongan di Guest House Pemkab Lamongan, Jumat (14/7).

• Baca: Bupati Lamongan Terusik Data Angka Gizi Buruk Kronis

Menurut Kohar, perbedaan angka antara TNP2K dengan Dinkes Jatim ini dimungkinkan adanya perbedaan metodologi yang digunakan untuk melakukan survei. “Ini masalah survei, ada beberapa hal yang berkaitan metodologi untuk melakukan survei, saya tidak tahu metodologi yang digunakan TNP2K,” katanya.

Kohar menyebutkan, ada berbagai cara mengukur status gizi, di antaranya metodologi antropometri. Dengan metodologi ini maka akan tergambarkan ada gangguan gizi pada saat itu, cukup lama atau kronis.

Sementara TNP2K menyebut secara nasional gizi buruk kronis (stunting) masih menjangkiti 27,5 persen atau 6,5 juta anak Indonesia.

Pemerintah pun memprioritaskan penanganan di 50 kota/kabupaten yang dinilai paling kronis masalah gizi buruk tahun ini. Enam kabupaten di antaranya berada di Jawa Timur. Yakni, Kabupaten Probolinggo, Sampang, Bangkalan, Jember, Sumenep dan Lamongan.

DATA STUNTING DI JAWA TIMUR

1. Jember – 8.035 anak (44,1%)
2. Lamongan – 4,403 anak (48,87%)
3. Probolinggo – 4.657 anak (49,43%)
4. Sampang – 3.537 (41,46%)
5. Sumenep – 3.319 anak (52,44%)
6. Bangkalan – 3.247 anak (43,21%)
*Sumber: Data TNP2K