Jumlah Balita Kurang Gizi Kronis di Jatim Terus Menurun

Ilustrasi (Ist)

SURABAYA, Barometerjatim.com – Angka kejadian balita dengan masalah kurang gizi kronis di Jawa Timur terus menurun, terutama karena berbagai upaya masif yang dilakukan Pemprov Jatim bekerjasama dengan berbagai pihak, di antaranya Tim Penggerak PKK.

Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Biro Humas Pemprov Jatim, Benny Sampir Wanto mengomentari adanya publikasi media tentang enam daerah di Jatim dengan balita paling parah mengalami gizi buruk kronis, yakni Sumenep, Sampang, Probolinggo, Lamongan, Jember, dan Bangkalan.

Sekadar tahu, gizi buruk kronis menyebabkan gangguan pertumbuhan tubuh menjadi pendek atau stunting.

• Baca: KPK Akan Periksa Empat Kepala Dinas Pemprov Jatim

Upaya masif tersebut, lanjut Benny, di antaranya berupa penguatan pemantauan status gizi masyarakat melalui Posyandu serta pemberian makanan tambahan untuk balita dan ibu hamil yang memiliki masalah gizi kurang. Juga penguatan layanan pemulihan gizi, baik di tingkat layanan primer maupun rujukan.

Berdasarkan hasil survei pemantauan status gizi (PSG) 2014-2016, terang Benny, persentase status gizi stunting di Jawa Timur tercatat usia 0-59 bulan pada 2014 sebesar 29 persen.

Jumlah tersebut menurun menjadi 27 persen pada 2015 dan turun lagi pada 2016 sehingga menjadi sebesar 26,1 persen. “Pemprov terus berupaya secara serius mengurangi stunting ini” ujarnya.

• Baca: Sempat Bantah Dipanggil KPK, Eh.. Akhirnya Ngaku juga

Ditambahkan, data PSG nasional terakhir (2016) menyebutkan daerah di Jawa Timur dengan stunting tinggi atau prevalensi lebih 40 persen hanya di Kabupaten Sampang, yakni 44 persen.

Sedangkan lima daerah lainnya, Jember, Sumenep dan Bangkalan dalam kategori persentase sedang, rentang antara 30-39,2 persen. Jember sebesar 39,2 persen, Sumenep 32,5 persen dan Bangkalan sebesar 32,1 persen.

“Dua daerah lain, yakni Kabupaten Probolinggo dan Lamongan masuk kategori ringan, yakni dalam rentang 20-29 persen. Probolinggo tercata sebesar 25,5 persen dan Lamongan 25,2 persen,” katanya.

• Baca: Dubes Turki Sambut Baik Tawaran Investasi Geothermal

Menurut Benny, di Jawa Timur daerah yang bervalensi sedang sebanyak delapan kabupaten/kota. Selain Jember, Sumenep dan Bangkalan, juga Bondowoso (34,6 persen), Pamekasan (33,2 persen), Lumajang (30,6 persen) dan Bojonegoro (30,1 persen). Sementara untuk wilayah perkotaan prevalensi sedang hanya di Kota Batu (32,7 persen).

“Daerah yang mengalami masalah prevalensi stunting ringan sebanyak 23 kabupaten/kota. Tercatat enam kabupaten tidak bermasalah dengan stunting. Daerah-daerah adalah Kota Mojokerto (11,9 persen), Blitar (12 persen), Madiun (14,7 persen). “Juga Kabupaten Gresik (17,6 persen), Jombang (19,2 persen) dan Blitar (19,7 persen),” jelasnya.