Boon Pring, Potret Ekowisata dengan Omzet Rp 2,8 Miliar

DESA WISATA: Boonpring, ekowisata sukses yang dikembangkan Desa Sanankerto, Malang. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
DESA WISATA: Boon Pring, ekowisata sukses yang dikembangkan Desa Sanankerto, Malang. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Boon Pring tak sebatas ekowisata. Lebih dari itu: Sumber pendapatan desa lewat BUMDes yang beromzet miliaran rupiah!

BADAN Usaha Milik Desa (BUMDes) jika dikelola dengan transparan dan akuntabel, hasilnya sungguh luar biasa! Bahkan bisa menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) hingga ratusan juta rupiah.

Tengoklah BUMDes Kerto Raharjo, pengelola ekowisata di Dusun Andeman, Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang dengan destinasi unggulan Boon Pring. Sebuah kawasan hutan bambu seluas 36,8 hektare yang semula tanah kas desa.

Selain hutan bambu yang menjadi andalan, ekowisata Boon Pring juga dilengkapi dengan kolam anak, berkuda, trail mini, panahan, becak air, flaying fox, hingga perahu boat. Tidak semua wahana tersebut milik BUMDes, ada pula milik warga yang dikerjasamakan.

BUMDes Kerto Raharjo resmi berdiri pada 2015, namun baru bekerja secara aktif per 1 Meret 2017 dengan modal suntikan dana desa Rp 170 juta. Di tahun berikutnya naik menjadi Rp 300 juta, dan tahun ini tak lagi minta dana desa.

Bermodal suntikan dana desa tersebut, BUMDes Kerto Raharjo mengawali cerita suksesnya dengan menggarap empat unit usaha: Ekowisata, Agen 46, PAM dan UMKM. Tahun ini, unit usaha yang digarap bertambah dua, yakni bank sampah dan event organizer (EO).

“Mengapa EO? Karena apapun yang dikerjakan di sini itu berhubungan dengan EO,” terang Direktur BUMDes Kerto Raharjo, Samsul Arifin saat menerima kunjungan wartawan Pokja Pemprov Jatim, Kamis (28/11/2019).

“Dalam proses, kami juga membuat air mineral. Selain itu, dalam proses juga, kami membuat grosir sembako. Beberapa bulan lalu kami membeli tanah seluas 1.800 M2 untuk kegiatan BUMDes,” imbuhnya.

Lewat unit usaha yang digarap, BUMDes Kerto Raharjo beromzet Rp 2,8 miliar (Rp 2.873.577.500) pada 2018 atau naik Rp 1,8 miliar (Rp 1.879.228.000) dari omzet 2017 sebesar Rp 994 juta (Rp 994.349.500).

Tahun ini, per Agustus 2019, omzet yang tercatat sudah mencapai Rp 2,7 miliar (Rp 2.730.000.000). “Estimasi omzet di 2019 sebesar Rp 4,2 miliar dan itu realistis,” ujar Samsul.

Dari omzet miliar rupiah tersebut, laba bersih yang dicatat pada 2017 sebesar Rp 402 juta (Rp 402.905.900) dan naik menjadi Rp 1,4 miliar (Rp 1.457.044.977) pada 2018.

Sedangkan sumbangan PADes yang masuk sebesar Rp 80 juta (Rp 80.581.180) pada 2017 dan naik menjadi Rp 437 juta (Rp 437.113.493) pada 2018. “Estimasi di 2019 sumbangan ke desa Rp 550 juta,” ucap Samsul.

Sebagian besar pendapatan berasal dari tiket masuk. Per orang dewasa dikenakan tarif Rp 10.000, anak-anak Rp 5.000. Sisanya berasal dari aneka mainan yang disediakan warga setempat.

BERAGAM WAHANA: Becak air, salah satu wahana di ekowisata Boonpring Malang. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
BERAGAM WAHANA: Becak air, salah satu wahana di ekowisata Boon Pring Malang. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Tak hanya wisatawan lokal, turis mancanegara juga kerap bertandang ke Boon Pring untuk menikmati suasana alam yang segar dan alami.

Jumlah pengunjung sekitar 500-an orang kalau hari biasa, weekend bisa seribu orang lebih. Rata-rata yang berkunjung wisatawan lokal dan datang secara rombongan.

Lantas, bagaimana pendistribusian laba? Menurut Samsul, sisa hasil usaha (SHU) didistribusikan untuk dana cadangan, PADes, pengawas dan pengurus, komisaris, dana karyawan, dana pendidikan, dana sosial, serta purnabakti.

Selain itu, kehadiran BUMDes Kerto Raharjo, juga berdampak pada lapangan pekerjaan untuk warga Desa Sanankerto. “Saat ini ada 75 karyawan tetap, sisanya freelance,” katanya.

Bagi pekerja lepas, mereka diupah Rp 70 ribu plus Rp 12 ribu per hari atau setiap kali datang. Lalu karyawan tetap, digaji sesuai beban kerja, mulai Rp 800 gaji pokok plus uang makan sampai dengan UMK.

Selebihnya, pengembangan ekonomi dilakukan melalui pembukaan kedai-kedai makanan di lokasi ekowisata Boon Pring. Setidaknya, saat ini ada 60 kedai atau warung yang dikelola BUMDes.

“Semua pelaku usaha yang ada, merupakan warga Desa Sanankerto dan tidak melibatkan pihak lain. Mereka sewa ke BUMDes, dan kami punya komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Samsul.

Menuju Museum Bambu

PENGELOLA: Djamaludin (kiri) dan Samsul Arifin, jaga warisan leluhur lewat pariwisata. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PENGELOLA: Djamaludin (kiri) dan Samsul Arifin, jaga warisan leluhur lewat pariwisata. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Sementara Kepala Dusun Andeman, Djamaludin menuturkan, sejak adanya desa wisata tersebut, warga yang semula berbasis buruh tani kini sebagian besar sudah membangun wirausaha sendiri.

“Karena banyak kunjungan wisatawan, warga mulai bisa membaca peluang, muncul usaha baru, menghasilkan inovasi, mana yang bisa dijual,” katanya.

Pihak pengelola juga tidak terlalu kaku soal kebiasaan wisatawan. Misalnya, soal kebiasaan rombongan yang membawa makanan bisa memunculkan sampah.

“Tetap kita perbolehkan, karena segmen pasar kita memang itu. Misalnya family gathering, itu kan mereka merasa nyaman. Urusan sampah, kita yang atasi,” katanya.

Bagaimana dengan kelestarian bambu? Menurut Djamaludin, saat ini terdapat sekitar 72 jenis bambu dan diharapkan dalam waktu dekat sudah lebih dari 100 jenis.

Pihak pengelola, bahkan sudah bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk menambah jenis bambu, sekaligus menjadikan Boon Pring menjadi destinasi wisata yang semakin diminati.

“Kalu jenis bambu di sini lebih dari 100, kami siap mendirikan museum bambu untuk menambah pendapatan dan menjadi tempat edukasi tentang jenis-jenis bambu,” tuntas Djamaludin.

» Baca Berita Terkait Desa Wisata