Sanggring, Tradisi Jamuan 44 Piring yang Dimasak 40 Lelaki

Sanggring, tradisi jamuan dan sedekah bumi di Lamongan. | Foto: Barometerjatim.com/hamim anwar

Sanggring. Tradisi jamuan warga di Kabupaten Lamongan masuk kalender pariwisata Jawa Timur. Apa uniknya?

SESEKALI berkunjunglah ke Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Di tempat ini ada tradisi yang berlangsung secara turun temurun. Namanya Sanggring.

Sanggring adalah tradisi berupa jamuan untuk para tamu dan sedekah bumi, yang diwariskan sejak ratusan tahun silam oleh leluhur Desa Tlemang.

Sebutan Sanggring diambil dari nama masakan berbahan dasar ayam. Dalam tradisi jamuan ini, warga dengan kesadaran masing-masing menyerahkan ayam beserta bumbu dan kayu bakar.

“Untuk ayamnya yang ngasih ya warga, tapi setiap keluarga memberi ayam dengan bumbu jangkep (lengkap) sama kayunya juga. Terserah jenisnya, mau jantan atau betina,” tutur Yatono, salah seorang warga Tlemang, Senin (4/1/2019).

Tradisi Sanggring, kata Yatono, digelar setiap setahun sekali berdasarkan penanggalan Jawa, yakni setiap 26 dan 27 Jumadil Awwal. Biasanya bagi warga yang sedang merantau akan menyempatkan pulang untuk ikut jamuan.

Uniknya, dalam tradisi tersebut, mereka yang bertugas memasak hanya 40 lelaki. Sementara wanita tidak diperkenankan membantu maupun, termasuk ikut memasak.

“Sanggring dimasak dengan tiga buah kenceng (kuwali). Mereka yang masak semua laki-laki, masakan tidak boleh dicicipi, dan bumbu yang diberikan warga semuanya dimasak dengan cara ditumbuk,” terang Yatono.

Sambil menanti Sanggring matang, masyarakat disuguhi hiburan berupa wayang krucil dengan menampilkan empat orang sinden. “Wayangnya harus wayang krucil, kalau wayang kulit, enggak boleh,” tambahnya.

Setelah prosesi Sanggring selesai, kepala desa, tokoh masyarakat dan warga membawa ambeng (berbagai macam makanan kiriman dari warga) ke punden atau makam Ki Buyut Terik. “Makan-makan di sana,” ujar Yatono.

44 Buah Piring

Bumbu yang diberikan warga semuanya dimasak dengan cara ditumbuk. | Foto: Barometerjatim.com/hamim anwar

Sanggring, kali pertama dimunculkan Ki Buyut Terik sebagai jamuan untuk para tamu dan sedekah bumi, yang kemudian diwariskan secara turun temurun di Tlemang. Salah satu syarat: Piring untuk jamuan tamu harus berjumlah 44 buah.

“Ceritanya Sanggring ini untuk menjamu. Dulu kan ada seperti prajurit, mengundang teman-teman untuk jamuan makan, mengerahkan anak buahnya atau murid-muridnya untuk memasak Sanggring ini,” kisah Kepala Desa Tlemang, Aris Pramono.

Selain jamuan, Sanggring juga menjadi salah satu ritual pensucian dan yang memasak harus laki-laki karena tidak haids.

Selebihnya, Aris berharap, Sanggring tidak hanya untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang, tapi dapat menjadi ikon wisata budaya di Lamongan dan Jatim.

“Impian kita ke depan kegiatan Sanggring ini harus lebih baik, untuk lebih bisa meningkatkan PAD, khususnya ekonomi masyarakat Desa Tlemang,” harapnya.

Kalender Wisata

Setelah matang, piring untuk jamuan tamu harus berjumlah 44 buah. | Foto: Barometerjatim.com/hamim anwar

Gayung bersambut. Pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lamongan sudah merancang tradisi Sanggring sebagai ikon pariwisata Lamongan, sekaligus masuk kalender pariwisata Jatim.

“Sekitar Januari pertengahan, itu ada launching kalender wisata di Jatim dan sebenarnya sudah masuk Sanggring ini,” kata Sekretaris Disbudpar Lamongan, Rudi Gumilar yang turut menghadiri pelaksanaan Sanggring.

Bagi Disbudpar, kata Rudi, Sanggring merupakan tradisi yang unik karena dalam pelaksanannya tidak banyak mengalami perubahan meski berlangsung turun temurun, sehingga mulai jarang ditemui di daerah lain di Jatim.

“Saya kira di Jatim cuma ada di Lamongan. Biasanya kan untuk acara sedekah bumi ini hampir di setiap desa ada, tapi yang unik seperti di Desa Tlemang ini yang sampai kita lihat tadi masaknya oleh laki-laki dan sebagainya,” ucap Rudi.

» Baca Berita Terkait Lamongan, Pariwisata