Surabaya Gudangnya Dokter, Gus Hans Cetuskan Health Tourism

GARAP PARIWISATA: Gus Hans, potensi wisata di Surabaya belum digarap secara optimal. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
GARAP PARIWISATA: Gus Hans, potensi wisata di Surabaya belum digarap secara optimal. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tokoh muda Surabaya, Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans memandang banyak kemajuan yang dicapai Kota Pahlawan di bawah dua periode kepemimpinan Tri Rismaharini.

Di sisi lain, sejumlah sektor yang belum digarap secara optimal menjadi tantangan bagi penerusnya untuk membawa Surabaya semakin maju. Salah satunya pariwisata, khususnya health tourism.

Mengapa wisata kesehatan? “Kita ini punya Unair (Universitas Airlangga) yang setiap orang mengatakan kalau fakultas kedokterannya terbaik di Indonesia. Banyak dokter hebat di sini,” katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi yang digelar Komunitas Milenial Peduli Indonesia (Kompi) Surabaya, Selasa (27/8/2019).

Nah, menilik Surabaya yang menjadi ‘gudangnya’ dokter hebat, Gus Hans melihat ada potensi yang sangat besar untuk mengoptimalkan health tourism. Apalagi jam terbang para dokter dari Surabaya sudah level dunia.

“Mungkin tidak banyak yang tahu, kalau tak sedikit dokter kita ini yang setiap bulan keliling Eropa, mengoperasi di sana,” beber tokoh mudah yang juga Presiden Football for Peace Interfaith Indonesia tersebut.

Anehnya, sambung Gus Hans, “Sekarang justru banyak yang berobat ke luar negeri. Padahal banyak dokter yang keliling Jerman, Belgia, Swiss dan lainnya itu dari Unair. Nah, potensi yang ada di Surabaya ini kenapa tidak dioptimalkan.”

Hal ini, menurut Gus Hans, terkait erat dengan pola hidup pariwisata yang ada di Surabaya. Sebab wisatawan yang tinggal di Surabaya, length of stay (lama tinggal) makismal masih sekitar dua hari.

“Hanya transit dari Juanda untuk menuju kota lain. Nginap sebentar di Surabaya, habis itu ke Malang, Bromo, serta wilayah lainnya. Surabaya belum menjadi tujuan wisata,” tandas magister kesehatan alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakata tersebut.

Padahal negara-negara kaya di Timur Tengah, misalnya Dubai, sudah menginvestasikan uangnya ke pariwisata. Karena itu jangan heran, jika di Dubai mobil-mobil polisi pakai Ferrari, Porsche dan merek mewah lainnya.

“Itu semua dalam rangka tourism, memancing orang untuk datang. Mereka sadar minyak akan habis, tapi kalau pariwisata enggak ada habisnya,” ucap Gus Hans yang didorong banyak elemen masyarakat untuk maju di Pilwali Surabaya 2020 .

Tawarkan Paket Wisata

Apa yang dilakukan Dubai, seharusnya bisa pula dilakukan dengan mengoptimalkan pariwisata di Surabaya, terutama health tourism. Seperti halnya saat berobat ke Penang, Guangzhou maupun Singapura yang dibisa dijual secara paket.

“Kenapa kita tidak optimalkan potensi yang ada Surabaya. Dengan dokter-dokter yang canggih, alat-alat canggih yang kita punya untuk menjadikan health tourism di Indonesia ya di Surabaya,” ujarnya.

Dengan adanya paket health tourisme, papar Gus Hans, maka mereka yang akan memeriksakan kesehatan, check up dan sebagainya, minimal length of stay bisa empat sampai lima hari di Surabaya dan itu akan menghidupkan perekonomian.

“Begitu seorang turis datang dan makan semangkok soto, misalnya, maka dia telah menghidupkan bakul kubis, tomat, telor, semua perekonomian akan naik. Tourism harus kita alihkan yang lebih educated, tanpa harus meninggalkan syariat yang ada,” jabarnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, Gus Hans