Sedih! Penduduk Miskin di Jatim Melonjak Jadi 4,58 Juta Jiwa

BIKIN SEDIH: Jumlah penduduk miskin di Jawa Timur per September 2020 mencapai 4,58 juta jiwa. | Grafis: BPS Jatim
BIKIN SEDIH: Jumlah penduduk miskin di Jawa Timur per September 2020 mencapai 4,58 juta jiwa. | Grafis: BPS Jatim

SURABAYA, Barometerjatim.com – Jumlah penduduk miskin di Jatim terus bertambah. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, per September 2020 mencapai 4,58 juta jiwa atau setera dengan 11,46 persen penduduk. Dari segi persentase bahkan lebih tinggi dibanding rata-rata nasional 10,19 persen.

“Perkembangan kemiskinan, bahwa selama Maret sampai September 2020 jumlah penduduk miskin ini memang secara persentase tercatat 11,46 persen,” kata Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan, Senin (15/2/2021).

Angka tersebut, jelas Dadang, bertambah 166,9 ribu jiwa dibanding Maret 2020 sebanyak 4,41 juta. “Meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2020, meningkat 1,26 persen poin dibandingkan September 2019,” tandasnya.

“Dan kita bandingkan dengan September 2019, dimana belum ada pandemi Covid-19, ini meningkat 529.097 orang,” jelasnya.

Secara umum, peningkatan kemiskinan ini, lanjut Dadang, tak lepas dari dampak pandemi Covid-19. Di September 2020, saat itu Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat terkonfirmasi positif sekitar 43 ribu dengan suspect sekitar 7,7 ribu.

Lalu dari laju perubahan terkait kemiskinan di perkotaan dan perdesaan, menurut Dadang, pada wilayah perkotaan persentase penduduk miskin meningkat 0,48 persen poin, dari 7,89 persen pada Maret 2020 menjadi 8,37 persen pada September 2020.

“Sedangkan persentase penduduk miskin di perdesaan pada Maret 2020 sebesar 14,77 persen, naik menjadi 15,16 persen pada September 2020 atau meningkat 0,39 persen poin,” katanya.

Dari jumlah penduduk, selama periode Maret-September 2020, jumlah penduduk miskin di perkotaan naik 138,0 ribu jiwa, dari 1.682,14 ribu jiwa pada Maret 2020 menjadi 1.820,13 ribu jiwa pada September 2020.

“Sementara di daerah perdesaan naik sebanyak 28,9 ribu jiwa, dari 2.736,97 ribu jiwa pada Maret 2020 menjadi 2.765,84 ribu jiwa pada September 2020,” katanya.

Lantas, faktor apa saja yang mempengaruhi kenaikan kemiskinan? Menurut Dadang, di antaranya aktivitas ekonomi pada Maret lebih baik dibandingkan September. Hal itu terlihat dari intensitas cahaya di malam hari pada periode tersebut.

Kemudian terkait mobilitas masyarakat yang cenderung di rumah, lalu inflasi umum yang cukup rendah -0,07 persen, serta harga eceran beberapa komoditas pokok malah mengalami penurunan.

Berikutnya indeks upah buruh pertanian naik 0,54 persen dari 109,23 pada Maret menjadi 109,82 di September, serta Nilai Tukar Petani (NTP) turun -1,09 poin.

“Penurunan ini disebabkan (terbesar) dari subsektor hortikulura yang turun -13,69 persen,” papar Dadang.

DISPARITAS: Laju perubahan angka kemiskinan perkotaan dan perdesaan di Jawa Timur. | Grafis: BPS Jatim
DISPARITAS: Laju perubahan angka kemiskinan perkotaan dan perdesaan di Jawa Timur. | Grafis: BPS Jatim

» Baca Berita Terkait Kemiskinan