Saran Pengamat untuk PDIP: Pikirkan Pengaruh Khofifah!

Khofifah bersama warga Muslimat NU Surabaya. Kekuatan luar biasa! | Foto: Barometerjatim.com/roy hasibuan
Khofifah bersama warga Muslimat NU Surabaya. Kekuatan luar biasa! | Foto: Barometerjatim.com/roy hasibuan

SURABAYA, Barometerjatim.com – Selama empat periode, PDI Perjuangan sukses menempatkan kadernya sebagai wali kota Surabaya. Setelah Bambang DH (2002-2005 dan 2005-2010) berlanjut ke Tri Rismaharini (2010-2015 dan 2015-2020).

Namun di Pilwali Surabaya 2020, langkah PDIP diprediksi tak akan semulus empat periode sebelumnya. Peta politik berubah drastis setelah Khofifah Indar Parawansa memenangi Pilgub Jatim 2018, tak terkecuali di Surabaya yang selama ini dikenal sebagai ‘kandang banteng’.

“Saya kira yang harus dipikirkan PDIP memang pengaruh Bu Khofifah,” kata Pengamat Politik asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi Kusman, Minggu (23/12).

Mengapa Khofifah harus diperhitungkan PDIP? Menurut pengamat yang juga CEO lembaga survei The Initiative Intitute tersebut, setidaknya ada dua hal. “Pertama, beliau menang di Surabaya (saat Pilgub Jatim 2018),” katanya.

Kedua, lanjut Airlangga, Khofifah memiliki basis sosial yang cukup kuat, yaitu warga Muslimat NU dan sebagian besar pemilih dari Nahdliyin. “Ini yang tak bisa diabaikan PDIP,” katanya.

Namun saat ditanya, siapa sosok potensial yang akan didukung Khofifah di Pilwali Surabaya, Airlangga masih enggan menyebut nama. Menurutnya, mantan Menteri Sosial itu baru sebatas memotivasi kandidat yang ingin maju.

Apakah Khofifah juga akan memunculkan kandidat dari kalangan muda yang sekarang lagi ‘tren’ di hajatan Pilkada? “Kemungkinan seperti itu ada, tapi masih belum kelihatan. Kita harus lihat dulu, saya belum melakukan survei,” katanya sambil tersenyum.

Dua Kali Menang di Surabaya

Warga Muslimat NU, Ormas sekaligus kekuatan mesin politik yang besar. | Foto: Barometerjatim.com/roy hasibuan
Warga Muslimat NU, Ormas sekaligus kekuatan mesin politik yang besar. | Foto: Barometerjatim.com/roy hasibuan

Dalam konteks Pilgub Jatim, Khofifah tercatat dua kali memenangi pertarungan di Surabaya. Pertama, saat putaran kedua Pilgub Jatim 2008. Kala itu Khofifah yang berpasangan dengan Mudjiono (Kaji) meraih 456.236 suara, mengalahkan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) 413.065 suara.

Namun kemenangan ini, bisa dibilang tak lepas dari dukungan konstituen PDIP. Setelah pasangan yang diusung, Soetjipto-Ridwan Hisjam (21,19 persen suara) tersisih di putaran pertama, PDIP mengalihkan dukungan ke Kaji pada pada putaran kedua.

Putaran kedua digelar, karena saat itu masih mengacu Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua UU No 32 Tahun 2004. Pasal 107 berbunyi: Apabila tidak ada pasangan calon kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 30 persen dari jumlah suara sah, dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua.

Saat itu, data KPU Jatim mencatat, Khofifah-Mudjiono yang meraih 24,82 persen suara maju ke putaran kedua bersama Soekarwo-Saifullah yang leading dengan 26,44 persen suara.

Sedangkan di Pilgub Jatim 2013 hanya berlangsung satu putaran. Soekarwo-Saifullah yang berstatus incumbent menang dengan 47,25 persen suara. Disusul Khofifah-Herman (37,62 persen), Bambang DH-Said Abdullah (12,69 persen) dan Eggy Sudjana-Sihat (2,44 persen).

Tapi pada Pilgub Jatim 2018, Khofifah yang kembali maju untuk kali ketiga membuktikan tak perlu campur tangan PDIP untuk menang di Surabaya. Justru menumbangkan PDIP di kandang sendiri.

Merujuk hasil rekapitulasi KPU Jatim, Khofifah yang berpasangan dengan Emil Dardak meraih 579.246 suara, atau menang atas pasangan yang diusung PDIP bersama PKB, Gerindra dan PKS, Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno yang mendapat 560.848 suara.

“Kalau akhirnya menjadi rival Bu Khofifah (di Pilwali Surabaya 2020), itu berat bagi PDIP,” tandas Airlangga. •

» Baca Berita Terkait Khofifah, PDIP, Pilwali Surabaya