Dorongan Khofifah ke Fandi Utomo Bukan Bentuk Dukungan

BUKAN BENTUK DUKUNGAN: Dorongan Khofifah agar Fandi Utomo maju di Pilwali Surabaya 2020 bukan bentuk dukungan. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
BUKAN BENTUK DUKUNGAN: Dorongan Khofifah agar Fandi Utomo maju di Pilwali Surabaya 2020 bukan bentuk dukungan. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Khofifah factor dinilai akan mewarnai Pilwali Surabaya 2010. Terbukti, lewat kekuatan Muslimat NU dan jaringan milenial, Khofifah-Emil Dardak sukses menjebol ‘Kandang Banteng’ di Surabaya: Mengalahkan Gus Ipul-Puti Guntur di Pilgub Jatim lalu.

Maka, siapa ‘jago’ yang akan didukung mantan Menteri Sosial itu menjadi sangat layak diperhitungkan. Terlebih, Tri Rismaharini (Risma) sudah mengakhiri kepemimpinanya di Surabaya setelah dua periode menjabat.

25 Juli lalu, lewat acara tasyakuran dan doa bersama PAC Muslimat NU Semampir, Surabaya yang dihadiri Fandi Utomo, Khofifah sempat ‘menantang’ politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu maju di bursa Pilwali Surabaya.

• Baca: Pengamat: Surabaya Pasca Risma Butuh Figur Sekelas Emil

“Beliau dulu pernah nyalon wali kota (2010), saya menantang ke beliau, ayo Pak, ikut lagi pencalonan wali kota,” kata Khofifah saat itu.

Namun Fandi, kata Khofifah, ingin berkonsentrasi terlebih dahulu sebagai Caleg. “Kata beliau, Bu saya mau nyaleg DPR dulu. Jadi beliau mau calon legislatof dari PKB,” katanya.

Tantangan itu lantas memicu spekulasi politik, kalau Fandi-lah yang akan dijagokan Khofifah di 2020. Namun Pengamat Politik asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi Kusman menilai hal itu hanya seloroh dari Khofifah.

• Baca: Pilwali Surabaya! Berat Kalau PDIP Lawan ‘Jagonya’ Khofifah

“Kelihatannya seloroh Bu Khofifah itu hanya salah satu dari cara dia, untuk mendorong figur-figur politik agar berani maju dalam gelanggang Pilwali,” katanya di Surabaya, Senin (5/11).

Airlangga juga tidak melihat dorongan Khofifah sebagai bentuk dukungan. “Masih jauh lah, enggak bisa kita melihat itu fix langsung ke sana (bentuk dukungan), enggak bisa! Apalagi proses politiknya masih lumayan panjang, masih sekitar dua tahun,” paparnya.

• Baca: Banser Dukung Fandi Utomo, NU Kian Terseret Politik Praktis

Jadi betul-betul sebatas seloroh? “Iya, itu bukan dukungan riil. Itu bagian dari komunikasi politik Bu Khofifah, untuk mendorong potensi dari para elite politik, para politisi,” katanya.

“Dorongan untuk para figur yang pantas, figur yang memiliki basis politik, serta memiliki kemampuan meng-handle kota sekelas Surabaya,” sambungnya.

Melihat ‘Pasar Politik’

Selain itu, Airlangga melihat dukungan dini PKB  untuk Fandi dalam konteks persiapan sekaligus pemanasan. “PKB coba menampilkan (figur) dengan melihat situasi yang ada. Kalau memang pasar politiknya memungkinkan, ya enggak menutup kemungkinan,” katanya.

CEO The Initiative Institute itu menegaskan, Parpol baru benar-benar memunculkan calon setelah Pemilu 2019, termasuk PDIP sebagai Parpol utama di Surabaya. “Kalau sekarang ini baru test the water dan pemanasan,” katanya.

• Baca: Pengamat: PKB-Fandi Utomo Bisa Dianggap “Nggege Mongso”

Lagi pula wali kota yang akan digantikan sekelas Risma yang sarat prestasi, maka Parpol harus betul-betul mempersiapkan dengan cermat dan matang.

“Dari nama-nama yang muncul belum kelihatan sih. Masih harus banyak ujian siapa yang lebih berkualitas, termasuk melihat track record-nya,” pungkas Airlangga.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, Khofifah, Fandi Utomo