3 Faksi PDIP Menuju Pilwali Surabaya 2020, Siapa Terkuat?

Bambang DH, Risma, Whisnu, tiga faksi di tubuh PDIP menuju Pilwali Surabaya 2020. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Proses politik pencalonan Pilwali Surabaya 2020 di internal PDIP bakal sangat dinamis. Diprediksi, tiga faksi kuat akan menjadi pertimbangan Megawati Soekarnoputri dalam membuat keputusan final dan mengikat, terkait siapa pasangan calon yang akan diusung.

“Ya, di PDIP kemungkinan akan terjadi proses politik yang dinamis antara beberapa kubu di internal. Ada Mas Whisnu (Sakti Buana), Bambang DH, juga nanti ada posisi Bu Risma (Tri Rismaharini),” nilai Pengamat Politik asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi Kusman, Sabtu (22/12).

Sengitnya lagi, dari spekulasi politik yang berkembang, ketiga faksi tersebut tidak akan satu suara dalam mengusulkan nama pasangan calon ke DPP PDIP, karena masing-masing faksi memiliki bakal calon wali kota pengganti Risma yang sudah dua periode memimpin Surabaya.

Whisnu, misalnya. Kemungkinan akan maju menjadi calon wali kota, bahkan sudah menyatakan kesiapannya sebagai kader kalau ditugasi partai. Namun saat ini konsentrasinya masih terfokus di Pileg 2019, di samping proses penjaringan calon di internal PDIP memang cukup berliku.

Jika Whisnu siap maju, Bambang DH dispekulasikan memiliki kandidat lain, yakni Wakil Bupati Trenggalek, Muhammad Nur Arifin. Selain masih muda, 28 tahun, Arifin dipandang punya logistik memadai untuk bertarung di Pilwali.

Bagaimana dengan Risma? Wali Kota Surabaya dua periode itu juga dispekulasikan lebih pas kalau PDIP mengusung orang dekatnya, Ery Cahyadi yang saat ini menjabat kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko).

Jangan lupa! Risma menjadi wali kota juga berangkat dari posisi kepala Bappeko. Nah, jabatan baru ini potensial menjadi loncatan Ery untuk maju di Pilwali 2020. Sebelumnya dia menjabat kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang, baru dimutasi pada 13 Agustus 2018.

Sama-sama Istimewa

Lantas, dari ketiga faksi tersebut siapa paling kuat di hadapan Megawati? Menurut Angga — sapaan akrab Airlangga Pribadi Kusman — ketiganya punya keistimewaan dan memberi sumbangsih besar terhadap PDIP.

“Saya pikir semuanya memiliki poin ya, keistimewaan tersendiri. Misalnya Mas Whisnu yang memiliki penguasaan tersendiri di PDIP, karena loyalitas ayahnya, Pak Tjip (almarhum Soetjipto Soedjono) sangat kuat ke Bu Mega. Selain itu dia ketua PDIP Surabaya saat ini,” katanya.

Airlangga mencontohkan saat Pilgub Jatim 2008, PDIP yang tanpa koalisi mengusung Soetjipto berpasangan dengan Ridwan Hisjam, meski akhirnya tersisih pada putaran pertama setelah hanya meraih posisi ketiga dengan perolehan suara 21,19 persen.

“Itu kan bisa sangat menentukan (posisi tawar Whisnu). Artinya, nama baik Pak Tjip di depan Bu Mega itu akan sangat menentukan,” ujarnya.

Pun demikian Bambang DH yang sekarang menjabat ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PDIP. Jabatan cukup strategis yang memungkinkan setiap ‘bisikan’ Bambang DH akan menjadi pertimbangan Megawati.

Sebelum dua periode menjabat wali kota Surabaya, Bambang DH turut jatuh bangun mendukung perjuangan Megawati lewat Posko Perjuangan Reformasi Total (PRRT) di Pandegiling, Surabaya.

“Begitu pula dengan Bu Risma, yang kelihatan selama ini total juga mendukung PDIP. Jadi saya pikir ketiga faksi ini memiliki keistimewaan masing-masing,” kata Airlangga.

Memungkinkan Tanpa Koalisi

Lantaran ketiga faksi sama kuat, menurut Airlangga, PDIP sangat memungkinkan mengusung pasangan calon sendiri untuk mengakomodir ketiganya, meski keputusan final dan mengikat tetap di tangan Megawati selaku ketua umum. “Kemungkinan itu bisa saja terjadi,” katanya.

Tapi untuk memenangkan pertarungan di Pilwali 2020, kata Airlangga, PDIP harus memikirkan faktor Khofifah (Indar Parawansa, Gubernur Jatim terpilih). Pilgub Jatim 2018 memberi pelajar berharga bagi PDIP, kalau Khofifah terbukti mampu menjebol ‘kandang banteng’.

“Itu yang harus dipikirkan PDIP, pengaruh kuat Bu Khofifah, terutama di kalangan warga Muslimat NU (Banom perempuan Nahdlatul Ulama yang dipimpin Khofifah),” pungkas CEO lembaga survei The Initiative Institute tersebut.•

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, PDIP