Ketum IKA UA, Alumnus FMIPA Serukan Asal Bukan Khofifah!

ASAL BUKAN KHOFIFAH: Noviana Suprajitno dan postingan #AsalBukanKIP sebagai Ketum IKA Unair di akun Facebook-nya. | Foto: Barometerjatim.com/IST
ASAL BUKAN KHOFIFAH: Noviana Suprajitno serukan Ketum IKA Unair #AsalBukanKIP lewat akun Facebook-nya. | Foto: Facebook/IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Jelang Pemilihan Ketua Umum (Pilketum) Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UA/Unair) Surabaya, Sabtu (3/7/2021), penolakan terhadap Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa (KIP) kian kencang disuarakan elemen alumni maupun sejumlah alumnus.

Setelah Ksatria Airlangga yang diketuai Teguh Prihandoko hingga alumnus Fakultas Hukum (FH) yang saat ini menjabat Sekjen Dewan Kesenian Jatim Chrisman Hadi, kini penolakan disuarakan Noviana Suprajitno, alumnus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam/FMIPA (kini Fakultas Sains dan Teknologi) 1998.

Penolakan terhadap Khofifah, diserukan Noviana yang saat ini aktif memberdayakan perekonomian perempuan dengan memporting meme berhastag #AsalBukanKIP #KongresIKAUA #UNAIRBergembira di akun Facebook-nya.

Mengapa Noviana terang-terangan menolak Khofifah? “Bu Khofifah itu kan menjabat sebagai gubernur. Terlebih melihat kondisi Jatim sekarang yang masih darurat pandemi Covid-19,” katanya saat dikonfirmasi Barometerjatim.com, Jumat (2/7/2021).

“Jadi kami berharap Bu Khofifah benar-benar fokus ngurusi Jatim, terlebih sekarang pandemi. Belum lagi masih ada hal-hal lain yang perlu diberesi secara struktural,” kata putri mendiang Suprajitno, mantan dosen di Unair tersebut.

“Artinya, fungsi pemerintahan ini kan harus berjalan selain pandemi itu sendiri. Sedangkan masalah sebelumnya di luar pandemi kan sudah banyak, itu juga konsekuensi logis sebagai pengemban amanat kepala pemerintahan di suatu daerah,” sambungnya.

Karena itu, sekali lagi, Novian berharap Khofifah sebaiknya fokus saja ke pemerintahan. Kalau kemudian ada hal-hal yang menjadikan krusial terhadap IKA Unair, sebaiknya dibicarakan antarinstitusi.

“Kerja sama antara Pemprov Jatim dengan institusi perguruan tinggi itu akan lebih baik. Kalau kemudian dia ada di dalam kan menjadi seperti pengawas. Kalau kemudian dia menjadi Ketum IKA UA, itu kan mengoreksi diri sendiri dan rasanya kok enggak etis,” tuturnya.

Khawatir Ada Agenda Politik 

Bagi Noviana, IKA Unair memang harus memberikan kontribusi. Dalam konteks Jatim, di antaranya memberikan pengawasan atau masukan kepada Pemprov yang dinakhodai Khofifah. Bukan kemudian Khofifah mengendalikan kedua instansi yang berbeda.

“Kalau Ketum IKA UA dijabat gubernur, lha mau apa ini gubernur di dalam. Dia saja sudah repot kok mau ngurusi di dalam IKA UA. Nanti alumni malah jadi supporting yang enggak-enggak, misalnya kepentingan politik,” ujarnya.

Terlebih kepala daerah adalah representasi dari partai politik. Noviana khawatir nanti ada pesanan-pesanan politis dan malah membuat repot IKA UA.

“Makanya dalam AD/ART IKA UA itu disebutkan bukan pengurus partai politik, karena mungkin biar netral, tidak membawa suasana partai ke dalam IKA UA,” tandasnya.

Seperti diberitakan, pemilihan ketua umum IKA Unair periode 2021-2025 akan digelar Sabtu (3/7/2021) besok lewat arena Kongres X di Airlangga Convention Center.

Tujuh calon sudah ditetapkan, yakni Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Abdul Kadir Jailani; Tim Ahli Menteri Bidang Perekonomian RI dan Direktur Akar Rumput Strategic Consulting, Dimas Oky Nugroho.

Lalu Ketua IKA UA Wilayah Jawa Timur serta Ketua Prodi Ilmu Kedokteran S3 Unair, Prof Hendy Hendarto; Pengusaha, Indra Nur Fauzi; Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa; Direktur RSUD Dr Saiful Anwar Malang, Kohar Hari Santoso; Wakil Ketua Umum PB IDI 2018-2021; Moh Adib Khumaidi; serta Pengusaha, Paulus Totok Lucida.

» Baca Berita Terkait IKA Unair