Usulkan Khofifah, Ketua IKA FH Dinilai Kayak Pilih Ketua Parpol!

CAKETUM: Khofifah (kiri) dan Abdul Kadir Zailani, dua dari delapan Caketum IKA Unair. | Foto: Barometerjatim.com/IST
CAKETUM: Khofifah (kiri) dan Abdul Kadir Zailani, dua dari delapan Caketum IKA Unair. | Foto: Barometerjatim.com/IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Keputusan Ikatan Alumni (IKA) Komisariat Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH UA/Unair) Surabaya mengusulkan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa sebagai calon Ketum IKA Unair periode 2021-2025 menuai reaksi dari kalangan alumni FH UA.

Hal itu terkait dengan satu dari tiga alasan Ketua IKA Komisariat FH Unair, Muhammad Yusni yang mendasarinya mengusulkan Khofifah yakni soal tempat tinggal. Seperti diketahui, Khofifah berdomisili di kawasan Jemur Wonosari, Sukolilo, Surabaya.

Keputusan IKA FH ini sekaligus menutup peluang Abdul Kadir Zailani (AKJ), alumnus FH 1980 yang merupakan Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan saat ini tinggal di Jakarta. Sementara Khofifah alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) 1984. Namun AKJ tetap maju sebagai calon, setelah diusulkan IKA Unair wilayah DKI Jakarta.

“Jelas Cak Yusni hanya berkilah alias cuma bikin dalih saja. Kilah itu bisa jadi didorong oleh pendekatan kepentingan pragmatis,” kata Chrisman Hadi, alumnus FH Unair yang saat ini menjabat Sekjen Dewan Kesenian Jatim, Minggu (20/6/2021).

“Itu juga dalih yang tidak cermat. Sebab, Cak Yusni sendiri sebagai Ketua IKA FH UA nyatanya tinggal di Jakarta juga,” sambung pria yang juga Ketua Dewan Kesenian Surabaya tersebut.

Menurut Chrisman, saat ini era teknologi tinggi, maka alasan domisili menjadi dalih yang tidak cermat karena segala urusan bisa dilakukan dari kota yang berbeda.

“Jangankan berbeda kota, presiden pun beberapa kali pernah menggelar rapat kabinet secara daring untuk memimpin negeri, ketika presiden sedang berada di luar negeri atau selama musim pandemi ini,” jelasnya.

Chrisman mengingatkan Yusni, bahwa visi-misi dan filosofi berdirinya IKA Unair bukanlah untuk perihal yang pragmatis. Karena itu, cara berpikir untuk memilih Ketua IKA Unair berbeda dengan memilih ketua partai politik (Parpol).

“Logika yang disampaikan Yusni ketika mengusung Mbakyu Gubermen itu jelas cara berpikir untuk mengusung ketua Parpol. Dengan kata lain, bangunan logis argumen yang disampaikan benar-benar mengedepankan kepentingan pragmatis, ketimbang cara berpikir visi-misi dan dasar filosofi berdirinya IKA UA,” paparnya.

Chrisman menyebut, Yusni telah mengabaikan aspirasi bottom up dari banyak alumni FH Unair yang bukan pengurus IKA FH Unair. Harusnya kalau bijak, Yusni memunculkan dua nama untuk direkomendasikan.

“Pertama, Mbakyu Gubernur bersumber dari aspirasi ketua IKA FH Unair, dan kedua AKJ yang muncul secara bottom up dari aspirasi banyak kalangan alumni yang jumlahnya lebih dari 500 orang,” imbuhnya.

Lantaran dianggap mengabaikan aspirasi tersebut, maka menurut Chrisman yang juga advokat, memandang pengusulan Khofifah dari IKA Komisariat FH Unair perlu dipertanyakan legitimasi faktualnya.

“Sebab, banyak kalangan alumni yang ternyata aspirasinya diabaikan begitu saja oleh pengurus IKA FH UA, yang selama menjabat tidak pernah jelas apa kontribusinya bagi organisasi alumni FH UA,” ucapnya.

3 Alasan Usung Khofifah  

Sebelumnya, seperti ditulis sejumlah media online, Yusni memaparkan tiga alasan yang mendasari IKA FH mengusulkan Khofifah.

Pertama, soal tempat tinggal calon ketua umum. Dari pengalaman selama ini, katanya, domisili sangat penting untuk memudahkan koordinasi.

“Kalau calon ketua di Jakarta sangat sulit. Sementara kader kami, Cak Abdul Kadir Jailani tinggalnya di Jakarta, Bu Khofifah kan tinggal di Surabaya. Jadi ini poin yang penting untuk efektifitas organisasi,” katanya.

Kedua, rekam jejak calon dan jaringan. Dari calon yang muncul, Khofifah dinilai punya keunggulan karena bukan semata menjadi gubernur Jatim, tetapi juga pernah menjadi menteri, tokoh NU sekaligus masih menjadi Ketum Muslimat NU.

Ketiga, Khofifah dipandang sebagai figur yang matang untuk berkontribusi besar bagi IKA dan Unair karena sebagai gubernur mempunyai panggung yang luas sekali.

“Jadi tidak sibuk membawa IKA Unair untuk membuat panggung bagi dirinya, tetapi akan menyediakan panggung bagi IKA Unair bisa berkontribusi bagi alumni dan almamater,” katanya.

Soal keberatan dari beberapa alumni, menurut Yusni hal yang wajar karena dalam demokrasi perbedaan pendapat harus dihargai. Tapi karena sudah menjadi keputusan organisasi, dia  mohon yang berbeda pendapat bisa menghargai keputusan pengurus.

» Baca Berita Terkait Kongres X IKA Unair