Dari WFS Asia, Gus Hans Gagas Surabaya Kota Football Friendly

Gus Hans (kanan) bersama delegasi La Liga, Rodrigo Gallego Abad (kiri) dan Octavi Anoro di WFS Asia. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Gus Hans (kanan) bersama delegasi La Liga, Rodrigo GA (kiri) dan Octavi Anoro. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

KUALA LUMPUR, Barometerjatim.com – Di antara 2.000 peserta World Football Summit (WFS) Asia dari 50 negara di Sunway Convention Center, Kuala Lumpur, Malaysia, 29-30 Maret 2019, ada satu sosok yang menarik perhatian yakni KH Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans.

Wartawan Barometerjatim.com, Roy Hasibuan dari Kuala Lumpur melaporkan, meski orang pesantren kiai muda penggagas Football for Peace tersebut sangat konsen dengan perkembangan industri sepak bola tanah air. Bahkan ekspansinya terbilang moncer, karena dalam hitungan bulan sudah merambah level internasional.

“Kenapa saya datang di sini, berarti alhamdulillah, langkah-langkah yang kita lakukan, walaupun singkat, tapi tepat sasaran karena kita sedang bermitra dengan orang di jalur yang benar,” katanya saat ditemui di Parkroyal Hotel, Kuala Lumpur, Rabu (1/5/2019).

Sehingga, lanjut Gus Hans, apa yang dilakukannya bisa terinformasikan kepada pihak komunitas sepak bola dunia. “Ini menunjukkan kita tak salah teman, tak salah komunikasi,” tandasnya.

Selain itu, kehadirannya di WFS Asia bisa menjadi pertanda baik, bahwa langkahnya untuk memajukan persepakbolaan Indonesia diharapkan mendapatkan respons positif dari semua pihak di level internasional.

“Jadi saya datang atas nama Football for Peace, berdasarkan rekomendasi dari mitra utama kita yang ada di Jakarta, ada Uni Papua dan juga Id Sports Management,” tuturnya.

Pertemuan ini sangat penting, lanjut Gus Hans, karena diikuti para pelaku industri sepak bola. Nah, ketika bicara industri, maka di situ ada unsur ekonomi, organizer hingga pemain.

“Apalagi di situ berkumpul para owner klub internasional, CEO, para pelaku usaha yang berkaitan dengan sponsorship dan faktor suporting kegiatan persepakbolaan. Mereka ini sekumpulan orang-orang yang sadar, betapa sepak bola bisa memberikan rezeki bagi semuanya,” jabarnya.

Figur Penentu Regulasi

Gus Hans (tengah) bersama pelaku industri sepak bola di WFS Asia, Kuala Lumpur. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Gus Hans (tengah) bersama pelaku industri sepak bola di WFS Asia, Kuala Lumpur. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

Saat ditanya apa oleh-oleh yang dibawa dari arena WFS Asia untuk kemajuan industri sepak bola di Surabaya dan Jawa Timur, Gus Hans yang berdomisili di Surabaya berharap Kota Pahlawan bisa menjadi kota football friendly.

“Artinya kota yang sangat welcome dengan perkembangan olahraga, terutama sepak bola, baik dari sisi membangun karakter masyarakat Surabaya dan juga melalui pendekatan industri serta pariwisata,” katanya.

Menurut wakil rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang itu, awareness dan militansi masyarakat Surabaya terhadap klubnya yang sangat tinggi, menjadi modal dasar untuk menjadi sesuatu yang lebih produktif lagi.

“Bayangkan ketika jiwa juang suporter Persebaya, perjuangan arek-arek Surabaya itu disalurkan dengan hal-hal postif berupa sepak bola dan aktivitas sportif seperti ini, maka bisa mendatangkan devisa negara dan APBD juga akan naik, serta dampak sosialnya akan bagus,” paparnya.

Karena itu, tegas Gus Hans, gagasan menjadikan Surabaya sebagai kota football friendly bisa terwujud sangat bergantung pada regulasi. “Jadi yang paling penting, siapa figur yang akan menjadi penentu regulasi di Surabaya,” tuntasnya.•

» Baca Berita Terkait Football for Peace, WFS Asia