Industri Sepak Bola Indonesia Tak Bergaung di WFS Asia

Harry Widjaja (kanan) di arena World Football Summit Asia, Kuala Lumpur, Malaysia. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Harry Widjaja (kanan) di arena World Football Summit Asia, Kuala Lumpur, Malaysia. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

KUALA LUMPUR, Barometerjatim.com – Asia mulai menjadi target serius industri sepak bola. Selama dua hari, 29-30 Maret 2019, 2.000 pelaku industri dan komunitas sepak bola dari 50 negara berkumpul lewat acara World Football Summit (WFS) Asia di Sunway Convention Center, Kuala Lumpur, Malaysia.

Wartawan Barometerjatim.com, Roy Hasibuan dari Kuala Lumpur melaporkan, Director of WFS Asia, Jan Alessia saat pembukaan mengungkapkan pentingnya acara ini untuk perkembangan bisnis sepak bola di Asia. Karena itu, setelah tiga kali pertemuan tahunan di Madrid, tahun ini digelar di Negeri Jiran.

“Asia sekarang adalah fokus dan prioritas industri sepak bola internasional, dan kami akan menyaksikan dalam dua hari ke depan. Kami harap anda menikmati acara dua hari penuh kegiatan,” katanya.

Para pelaku bisnis sepak bola di Asia pun menyambut antusias pertemuan ini. “WFS Asia untuk membuka jaringan, meng-update apa yang terjadi di pelaku industri sepak bola,” kata Harry Widjaja, pemilik komunitas sepak bola Uni Papua di arena WFS Asia, Selasa (30/4/2019).

Lewat WFS Asia, lanjut Harry, pihaknya bisa belajar banyak karena bertemu dengan beragam pelaku industri dan komunitas sepak bola dari berbagai negara yang memiliki jam terbang tinggi.

“Jadi menurut saya, WFS Asia ini sangat penting untuk memberikan kita masukan, wawasan dan update serta jaringan,” tandasnya.

Hal sama disampaikan KH Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans, penggagas Football for Peace. Menurutnya, gelaran WFS Asia membuktikan kalau sepak bola bisa menjadi industri untuk menggerakkan ekonomi, pariwisata maupun kebudayaan.

Sehingga, tidak salah kalau menjadikan sepak bola sebagai isu yang harus diperjuangkan dengan harapan bisa berdampak pada terbentuknya karakter masyarakat Indonesia.

“Karakter yang kita harapkan tak hanya bisa menjadi komunitas yang kompetitif, tetapi juga memiliki sifat sportif dan jiwa kebersamaan,” katanya.

Meski demikian, Harry tak bisa menyembunyikan kekecewaanya, karena industri Indonesia secara korporasi maupun negara tak bergaung di WFS Asia. “Isu Asia di industri sepak bola ini harusnya Indonesia menjadi pelaku, berperan,” katanya.

Namun hingga kini, kata Harry, industri sepak bola Indonesia masih berbenah dan entah sampai kapan selesai. Padahal negara lain sudah maju, bicara industri, infrastuktur memadai, meng-empower, bahkan mempunyai target jangka panjang, serta visi misi brilian.

“Yang mengecewakan, kita belum bisa berperan dan memberikan satu bukti, bahwa orang Indonesia ini mampu untuk berkancah di industri secara korporasi, secara negara,” katanya.

Baru Orang per Orang

Para pelaku industri sepak bola dalam World Football Summit Asia, Kuala Lumpur, Malaysia. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Para pelaku industri sepak bola di World Football Summit Asia, Kuala Lumpur. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

Memang, lanjut Harry, orang per orang sudah ada yang menonjol di industri sepak bola, tapi hal itu tak bisa mewakili keseluruhan karena Indonesia negara besar. Selain itu, pemerintah juga belum memberikan porsi dan perhatian yang lebih.

“Mungkin perlu ada perbaikan sistem, perlu ada orang-orang yang berdedikasi, tulus, dan punya integritas di industri sepak bola,” ujarnya.

Jadi bukan hanya prestasi sepak bola saja yang harus dikejar Indonesia, tapi juga industrinya? “Iya, prestasi itu kan hanya efek, akibat dari sebuah proses yang bagus, dengan infrastruktur yang memadai juga,” katanya.

“Saya kira Indonesia hanya berprestasi secara alamiah. Talenta dan bakat melimpah, tapi tak pernah di-support infrastruktur, fasilitas, manajemen dan support yang terintegrasi,” tandas Harry.•

» Baca Berita Terkait Football for Peace