Awey: Kalau Bukan Azrul Saya Akan Bersuara Lebih Lantang!

OBJEKTIF: Vinsensius Awey, pilih objektif soal keputusan Nasdem Surabaya sodorkan Azrul Ananda dampingi Machfud Arifin. | Foto: IST
OBJEKTIF: Vinsensius Awey, pilih objektif soal keputusan Nasdem Surabaya sodorkan Azrul Ananda dampingi Machfud Arifin. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Keputusan sudah diambil. DPD Partai Nasdem Surabaya lebih memilih menyodorkan Presiden Persebaya, Azrul Ananda ketimbang kader sendiri untuk diduetkan dengan Bacawali Machfud Arifin di Pilwali Surabaya 2020.

Padahal, Nasdem memiliki sejumlah kader yang disebut-sebut potensial untuk mendampingi Machfud. Satu yang paling menonjol yakni Vinsensius Awey, semula pengurus di DPD kini naik tingkat menjadi Wakil Ketua DPW Partai Nasdem Jatim bidang Media dan Komunikasi Publik.

Bahkan dalam proses panjang penjaringan, Awey memiliki nilai tertinggi dibanding pendaftar lainnya untuk posisi Bacawali. Begitu pula saat DPP memutuskan memilih Machfud, masih muncul wacana dan usulan agar pemilik skor tertinggi dalam penjaringan diusulkan mendampingi mantan Kapolda Jatim itu.

Tapi bukannya Awey atau kader Nasdem lainnya yang diusulkan, DPD malah memilih Azrul yang putra mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan. Lantas, Apa reaksi Awey?

“Kalau anda tanya saya kenapa harus beliau (Azrul), ya mungkin lebih tepat yang menjawab itu ya teman-teman DPD Nasdem Surabaya, iya kan?” katanya kepada Barometerjatim.com, Senin (27/7/2020).

“Tapi kalau anda tanya apakah nama AA (Azrul Ananda) ini cukup mumpuni? Saya harus objektif,” tandas mantan anggota DPRD Surabaya tersebut.

Objektif dalam arti, papar Awey, “Kalau yang diusulkan oleh DPD Nasdem itu bukan AA, katakanlah orang-orang yang memiliki kemampuan secara manajerial, lalu dari popularitas, elektabilitas, akseptablitas ternyata lebih kecil dari saya, tentu saya akan bersuara lebih lantang,” tegas Awey.

Lain cerita karena Azrul. Meski dari sisi pengalaman di birokrasi mungkin kurang atau bahkan sama sekali tidak punya, untuk urusan kemampuan manajerial dalam memimpin perusahaan, termasuk menahkodai organisasi olah raga sekelas klub sepakbola Persebaya memang mumpuni.

Azrul juga dipandang Awey memiliki tingkat popularitas maupun elektabilitas yang tinggi, dan itu sudah terlihat dari hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga independen maupun di internal Nasdem.

“Memang beliau memiliki tingkat popularitas, elektabilitas, dan akseptabilitas yang sangat tinggi,” tandasnya. Artinya masih di atas Awey? “Oh ya pasti! Saya harus objektif,” tegasnya.

Tambahan Amunisi Lawan PDIP

Objektifitas yang dipaparkan Awey tersebut kalau dilihat dari sisi kemampuan. Sebab, keberadaan calon wakil pendamping Machfud, harus dapat menambah amunisi dan kekuatan dahsyat untuk berkontestasi dengan calon yang nanti diusung PDIP.

“Tentu kalau hanya MA (Machfud Arifin) saja kan tidak akan kuat. Harus ditambah dengan wakil yang memang bisa membawa suara lebih besar, membawa massa yang lebih besar. Jadi kita harus objektif,” katanya.

Hanya saja, kalau dari sisi kaderisasi, Awey memberikan masukan mungkin Nasdem tidak perlu berpikir menang dulu demi memprioritaskan kader. Lagi pula, belum tentu kader Nasdem kalah dari calon nonkader karena masih ada waktu sebelum coblosan digelar 9 Desember mendatang.

“Artinya keberadaan dia (kader Nasdem) masih punya waktu lima bulan untuk meningkatkan popularitas, eletabilitas, akseptabilitas di mata masyarakat. Masih punya waktu, itu dari sisi kaderisasi ya,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya