Muncul Arif Fathoni, Gus Hans: Golkar Tak Kekurangan Kader!

KADER GOLKAR: Gus Hans (kiri) dan Arif Fathoni, Golkar tak kekurangan kader di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILWALI SURABAYA: Gus Hans (kiri) dan Arif Fathoni, Golkar tak kekurangan kader. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Partai Golkar menyodorkan dua kadernya, Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans dan Arif Fathoni untuk mendampingi bakal calon wali kota, Machfud Arifin di Pilwali Surabaya 2020.

Gus Hans yang mantan Jubir Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak di Pilgub Jatim 2018 saat ini menjabat salah satu wakil ketua DPD I Partai Golkar Jatim, sedangkan Arif Fathoni adalah Ketua DPD II Partai Golkar Surabaya.

Terkait munculnya nama Arif, Gus Hans menyebut hal itu menunjukkan kalau Golkar tidak kekurangan kader potensial, sekaligus mengutamakan kader internal yang milenial untuk diusung di kontestasi Pilkada.

“Kalau Mas Arif kan kader potensial yang ada di Surabaya, wajar kalau kemudian partai memberi peluang kepada kader potensial,” katanya di Surabaya, Jumat (24/7/2020).

“Kita harus menghargai itu. Partai Golkar itu kan komitmennya, satu, mengutamakan kader internal. Kedua, mengutamakan milenial. Itu menunjukkan kepada publik, bahwa Golkar enggak kekurangan kader,” sambungnya.

Adakah potensi persaingan di internal Golkar? “Oh, enggak ada persaingan, persaingan dimana? Kita ini bermain di segmen berbeda, tinggal realitas politik akan mengambil segmen yang mana,” ujar Gus Hans.

“Ini sirkuit berbeda ya. Ini lho ada rawon, ada soto, sama-sama enaknya. Tinggal masyarakat kalau lagi senang rawon ya pilih rawan atau sebaliknya pilih soto,” tandasnya beranalogi.

Jadi, lanjut Gus Hans, tidak akan ada persaingan di antara kader Golkar karena sirkuit dan segmentasi pasar yang berbeda. Justru ini menunjukkan kalau partai beringin memiliki kader yang lengkap.

Sementara ditanya apakah Golkar tetap di trek mengusung Machfud sebagai bakal calon wali kota, Gus Hans tak mau berkomentar karena hal itu menjadi ranah partai.

“Wah itu wilayahnya partai. Tugas saya sekarang adalah berkomunikasi kepada semua pihak, karena sangat cair sekali. Kita juga bisa lihat sejarah peta politik di Surabaya, last minute itu bisa berubah dan saya mengantisipasi segala kemungkinan,” katanya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya