Adu Kuat Whisnu, Eddy dan Armuji, Siapa Dipilih Megawati?

PILWALI SURABAYA: (Dari kiri), Whisnu Sakti Buana, Eddy Tarmidi dan Armuji. Siapa dipilih Megawati? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS/IST
PILWALI SURABAYA: (Dari kiri), Whisnu, Eddy Tarmidi dan Armuji. Siapa dipilih Megawati? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS/IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Memasuki hari keempat, tiga kandidat mengikuti penjaringan Bacawali Surabaya lewat PDIP. Ketiganya yakni Armuji, Eddy Tarmidi Widjaja, dan Whisnu Sakti Buana.

“Sampai saat ini yang mengambil formulir sudah tiga. Ada Pak Armuji dan Pak Eddy Tarmidi kemarin. Dan hari ini Pak Whisnu,” terang Ketua DPC PDIP Surabaya Adi Sutarwijono alias Awi di kantornya, Jalan Setail 8, Minggu (8/9/2019).

Siapa berpeluang mendapat rekomendasi dari DPP PDIP? Awi menegaskan, tugas DPC hanya memfasilitasi penjaringan. Soal siapa yang akan mendapat rekomendasi, sepenuhnya menjadi wewenang Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri.

“Apa yang diputuskan Ibu Ketua Umum, seluruh kader harus tegak lurus. DPC PDIP Surabaya hanya sebatas memfasilitasi penjaringan,” tandasnya.

Menilik sepak terjang ketiga kandidat, bisa jadi hanya nama Eddy Tarmidi yang kurang dikenal publik Surabaya. Saat ini, dia menjabat wakil ketua bidang nelayan DPD PDIP Jatim.

Di Pemilu Legislatif (Pileg) 2019, Eddy maju menjadi calon legislatif (Caleg) DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Jatim I (Surabaya dan Sidoarjo) namun tidak lolos.

Sedangkan nama Armuji sudah tak asing lagi. Selain saat ini sebagai anggota DPRD Jatim, dia cukup lama berkiprah di DPRD Surabaya sejak 2003.

Begitu pula dengan Whisnu. Sebelum digantikan Awi, dialah ketua DPC PDIP Surabaya selama dua periode (2009-2014 dan 2014-2019). Saat ini Whisnu menjabat ketua bidang organisasi DPD PDIP Jatim.

Penjaringan Hingga 14 September

Awi menambahkan, penjaringan ini dilakukan sesuai dengan Peraturan PDIP Nomor 24 Tahun 2017 tentang Penjaringan Calon Kepala Daerah dan Calon Wakil Kepala Daerah. Dibuka mulai 5 hingga 14 September 2019.

Khusus di Surabaya, mekanisme yang diterapkan yakni penjaringan secara tertutup, karena perolehan suara dalam Pileg 2019 di atas 25 persen.

Awi juga memastikan tidak ada biaya apapun terkait penjaringan, karena bagi PDIP Pilkada merupakan sarana menghasilkan kepemimpinan untuk rakyat.

“Kepemimpinan yang menyejahterakan warga, bukan ajang transaksional politik,” tandas politikus yang terpilih menjadi ketua DPC PDIP Surabaya lewat Rakercab di Empire Palace Surabaya, 7 Juli 2019.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, PDIP