Sebut PSBB Tak Maksimal! Gus Hans Tawarkan Konsep PSBP

PSBP Bukan PSBB: Gus Hans, tawarkan PSBP untuk memutus penyebaran Corona di Surabaya Raya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PSBP Bukan PSBB: Gus Hans, tawarkan PSBP untuk memutus penyebaran virus Corona. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tiga wilayah Surabaya Raya — Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Gresik — diperpanjang 14 hari lagi, 12 hingga 25 Mei 2020.

Meski sudah diperpanjang dua pekan lagi, menurut Pemerhati Kesehatan Masyarakat, Zahrul Azhar Asumta M.Kes waktu 14 hari tidaklah cukup untuk memutus penyebaran Covid-19.

“Bagaimana dengan PSBB yang hanya 14 hari, sementara pasien dapat menyimpan patogen penyebab penyakit virus ini (Covid-19) di saluran pernapasan selama 37 hari,” katanya kepada Barometerjatim.com, Rabu (13/5/2020).

Dengan demikian, para pasien yang terjangkit bisa menularkan virus Corona selama sekitar lima pekan. Karena itu, jika PSBB diniatkan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, mestinya dilakukan selama 51 hari. Mengapa selama itu?

Dia menjelaskan, anggap saja tujuh hari pra adalah masa pendataan dan pemeriksaan awal dengan populasi yang banyak. Lalu tujuh hari pasca untuk memastikan terpenuhinya masa 37 hari, dari yang terdata paling akhir pada pendataan pra.

“Ini kalau murni bicara dari sisi epidemiologi ya,” tandas pria yang akrab disapa Gus Gans tersebut.

Problemnya, kuatkah masyarakat dan pemerintah menerima konsekuensinya, terutama dalam soal pemenuhan hajat hidup masyarakat?

Menurut Gus Hans, jika PSBB yang sekarang ini diterapkan belum maksimal, maka perlu ada evaluasi dalam pelaksanaannya.

“Saya menawarkan konsep PSBP (Pembatasan Sosial Berbasis Protokol). Hal ini insyaallah selaras dengan imbauan presiden yang mengajak kita untuk ‘berdamai’ dengan Covid-19,” ucapnya.

PSBP, jelas Gus Hans, tidak mengharuskan menutup akses dan menutup aktivitas perekonomian asal dengan menerapkan protokol yang telah ditetapkan. Dengan cara seperti ini, maka kegiatan keekonomian tidak sampai lumpuh.

“Penerapan PSBP ini memerlukan keterlibatan semua pihak, bukan hanya Gugus Tugas saja, tapi semua elemen masyarakat harus dilibatkan,” ujarnya.

“Memang kita harus ‘berdamai’ dengan Covid-19, hingga vaksin benar-benar ditemukan,” sambungnya.

Mengarah Herd Immunity

Diakui Gus Hans, ide ini memang sedikit mengarah ke konsep herd immunity (kekebalan kelompok atau kekebalan kawanan) tapi tidak sampai membiarkan tingkat kematian yang tinggi.

Konsep herd immunity adalah bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik melalui infeksi sebelumnya atau vaksinasi, sehingga individu yang tidak kebal ikut terlindung.

Konsep ini bisa dijalankan walau tanpa adanya vaksinasi. Tetapi memang risiko kematian akan sangat tinggi, jika akses kesehatan dan persentase jumlah tenaga kesehatan (nakes) yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk.

“PSBB yang sekarang ini, menurut saya masih belum bisa dikatakan berhasil atau tidak, karena memang basis datanya juga bisa dikatakan tidak valid jika menggunakan standar data epidemiologi,” katanya.

Selama pemerintah lintas sektoral dan level masih berjalan sendiri-sendiri, nilai Gus Hans, maka data tidak akan didapatkan segera komperehensif.

“Data riwayat pasien itu sudah ada, tinggal dipegang oleh siapa dan diolah oleh siapa, agar bisa bunyi menjadi satuan data yang saling melengkapi,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona, PSBB