Pesta Ultah Khofifah Abaikan Prokes? Nih Jawaban Pemprov

TERAPKAN PROKES COVID?: Kerumunan di pesta ulang tahun Gubernur Khofifah yang terlihat dalam video. | Foto: Video/IST
TERAPKAN PROKES COVID?: Kerumunan di pesta ulang tahun Gubernur Khofifah yang terlihat dalam video. | Foto: Video/IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kepala Biro Administrasi Pimpinan, Agung Subagyo membantah video yang memperlihatkan kerumunan dalam pesta ulang tahun (ultah) ke-56 Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengabaikan protokol kesehatan (prokes) Covid-19.

“Semua berjalan sesuai prokes,” kata Agung saat dikonfirmasi Barometerjatim.com, Jumat (21/5/2021).

Dia juga menuturkan, video yang beredar luas di berbagai platform media sosial tersebut adalah acara tasyakuran bersama anak yatim dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Jatim.

Jadi bukan ultah Gubernur Khofifah? “Bertepatan dengan ultah Ibu,” elak pejabat berperawakan kalem tersebut.

Sebelumnya, beredar video pesta ultah ke-56 Khofifah yang terlihat digelar di teras dan halaman rumah dinasnya, kompleks Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (19/5/2021) malam.

Video juga diunggah sejumlah channel Youtube, termasuk YuTimes dan MPS TV, yang memperlihatkan kerumunan dan dihadiri artis ibu kota, Katon Bagaskara.

Matur sembah nuwun Pak Emil, matur nuwun Bu Khofifah. Terima kasih banyak bapak ibu, terima kasih untuk datang di pesta saya,” seloroh Katon dalam video yang disambut tawa undangan.

“Eh, maksud saya, pesta ulang tahun gubernur, tepuk tangan sekali lagi, terima kasih banyak,” sambung vokalis Kla Project itu, disusul nyanyian lagu Selamat Ulang Tahun dan saat bersamaan undangan terlihat berkerumun.

Video inipun menuai reaksi keras dari sejumlah pihak, termasuk Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU) dokter Muhammad S Niam.

“Jangan salahkan rakyat yang tidak mematuhi protokol, jika pemimpinnya juga tidak bisa menjadi teladan. Jangan masalahkan lonjakan kasus, jika prokes 5M hanya sebagai slogan,” geram Niam.

Niam merasa jengkel, karena semua pihak, terutama dokter yang menangani langsung pasien dan menyiapkan prokes secara teliti sudah bekerja mati-matian, termasuk membuat hidup tak senormal sebelumnya dan banyak rumah sakit gulung koming (kelimpungan), itu semua karena tekad agar Covid-19 segera berakhir.

“Maka ketika melihat pemimpin, kepala daerah seperti itu, gemasnya bukan main. Kalau mau dibilang marah, ya marah lah! Marah dan kecewa gitu, karena pemimpin yang harusnya menjadi teladan tapi tidak bisa jadi teladan,” katanya.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona