Varian Baru Covid-19 Masuk Jatim, Sadad Sebut Kecolongan!

MENUMPUK: Pekerja migran menumpuk di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Rabu (5/5/2021). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
MENUMPUK: Pekerja migran menumpuk di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Rabu (5/5/2021). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Varian baru Covid-19 masuk Jatim. Terbaru, 2 dari 14 ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang ke Jatim secara bertahap ditemukan terpapar B117 strain UK (Inggris) dan B1351 (Afrika Selatan). Sebelumnya, warga Mojokerto juga kedapatan positif B117 sepulang dari Kongo.

Menurut Wakil Ketua DPRD Jatim, Awar Sadad, munculnya varian baru Covid-19 di Jatim adalah bentuk kelalaian karena varian B117, B1351, maupun B1617 (India) bukan sesuatu yang baru.

“Sudah diingatkan oleh banyak orang, banyak pihak, baik di media sosial, media massa, bahwa ada varian baru. Sudah ada early warning. Artinya bukan sesuatu yang tiba-tiba, karena kasusnya sudah di beberapa tempat. Ada di Jabar, Bali, dan seterusnya,” katanya, Selasa (18/5/2021).

“Menurut saya, itu menjadi pelajaran penting. Apalagi datangnya pekerja migran, ya tentu harus benar-benar menyadarkan kita bahwa akan sangat mungkin varian itu datang melalui mereka,” sambungnya.

Artinya Jatim kecolongan? “Kalau memang itu terjadi, mau ngomong apalagi kalau bukan kecolongan. Ini kita sayangkan kalau kemudian kita kecolongan,” kata Sadad yang juga ketua DPD Partai Gerindra Jatim.

“Kita ibaratkan sebagai musuh atau lawan, kan sudah kita ketahui pergerakannya. Kalau sampai ternyata tembus ke sini, ya mau ngomong apalagi kalau bukan kecolongan. Ini ya kecolongan namanya,” tandasnya.

Meski demikian, menurut Sadad, tidak mungkin didiamkan. Perlu ada langkah-langkah ekstra untuk melacak seberapa jauh penyebarannya bisa dideteksi, supaya bisa diilakukan antisipasi lebih cermat lagi.

Apalagi pekerja migran yang pulang ke Jatim mendekati Idul Fitri lalu, secara bergelombang jumlahnya hingga 14 ribu. Sedangkan isolasi di Asrama Haji dinilai kurang maksimal, karena hanya tiga hari bagi yang negatif sementara mereka sebelumnya membaur dengan yang positif.

Karena itu, menurut Sadad yang masih keluarga Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, kalau varian baru Covid-19 terbukti sudah ada di Jatim maka harus merekonstruksi, membangun ulang ‘pertahanan’.

“Karena kemarin itu kan skemanya ya pada varian yang sudah kita antisipasi, sampai pada tahap vaksinasi. Nah dengan adanya varian baru ini harus dikejar betul, jangan sampai meledak lalu menjadi ancaman baru di Jatim,” katanya.

Sebab, kalau virus Corona tersebut varian baru, berarti munculnya bukan di tengah-tengah masyarakat, melainkan dari arus kedatangan orang. Sesuatu yang seharusnya bisa diantisipasi.

“Bahwa terjadi kecolongan ini, menurut saya harus dievaluasi. Mungkin cara penanganannya masih ada yang bolong-bolong di situ, masih kurang maksimal,” katanya.

Inilah, menurut Sadad, yang harus dilakukan solusi bersama-sama. Apalagi refocusing anggaran dan realokasi kegiatan sudah berkali-kali dilakukan sejak 2020.

“Tahun ini pun akan ada realokasi dan refocusing di APBD yang sedang jalan. Ya ini harus tersampaikan, jangan sampai mucul dugaan-dugaan. Harus terbuka, masalahnya itu dimana, kita pecahkan bersama,” katanya.

Dirawat Secara Terpisah

JATIM KECOLONGAN: Anwar Sadad, munculnya varian baru Covid-19 sudah ada early warning. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
JATIM KECOLONGAN: Anwar Sadad, munculnya varian baru Covid-19 sudah ada early warning. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Sebelumnya, masuknya varian baru Covid-19 ke Jatim lewat pekerja migran tersebut diungkap Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers seusai rapat terbatas di istana kepresidenan.

“Minggu lalu kita ketemu dua lagi mutasi baru, dua-duanya terjadi di Jatim. Keduanya adalah pekerja migran Indonesia yang baru datang dari Malaysia. Satu mutasi Afrika Selatan dan satu mutasi dari London,” bebernya.

Sementara Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menuturkan, kedua pekerja migran tersebut masing-masing berasal Kabupaten Jember dan Sampang. Saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya.

“Saat ini dirawat di RSLI di kamar khusus, baik yang dari Jember maupun dari Sampang. Satu teridentifikasi B117 yang berarti strain UK satu lagi B1351 yang berarti strain dari Afrika Selatan,” ujarnya.

Meski demikian, Khofifah meminta pasien lainnya yang dirawat di RSLI tidak perlu khawatir, karena kedua pekerja migran tersebut tak hanya ditangani di kamar khusus tapi juga terpisah.

“Jadi untuk pasien lainnya di RSLI tidak perlu khawatir. Para pekerja migran ini ditangani di kamar sendiri-sendiri dengan prosedur yang ketat,” ujarnya.

TANGANI POSITIF: Pekerja migran positif Covid-19 dibawa di RS Lapangan Indrapura. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
TANGANI POSITIF: Pekerja migran positif Covid-19 dibawa di RS Lapangan Indrapura. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

» Baca Berita Terkait Wabah Corona