Kerumunan di Pesta Ultah ke-56 Khofifah, PDNU Bereaksi Keras!

MASIH PANDEMI: Kerumunan di pesta ulang tahun ke-56 Gubernur Khofifah di Grahadi, Rabu (19/5/2021) malam. | Foto: Video/IST
MASIH PANDEMI: Kerumunan di pesta ulang tahun ke-56 Gubernur Khofifah di Grahadi, Rabu (19/5/2021) malam. | Foto: Video/IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Video kerumunan saat pesta ulang tahun (ultah) ke-56 Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di kompleks Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (19/5/2021) malam, makin luas saja beredar di media sosial.

Mulai dari platform Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, hingga aplikasi chatting WhatsApp (WA). Intinya: Baik pemilik akun maupun netizen, ramai-ramai bereaksi keras! Menyayangkan pejabat sekelas gubernur menggelar pesta ultah di tengah pandemi Covid-19, bahkan memicu kerumunan.

Reaksi keras, disertai kecewa dan marah, salah satunya dilontarkan Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU) dokter Muhammad S Niam.

“Jangan salahkan rakyat yang tidak mematuhi protokol, jika pemimpinnya juga tidak bisa menjadi teladan. Jangan masalahkan lonjakan kasus, jika prokes 5M hanya sebagai slogan,” geram Niam, Kamis (20/5/2021).

“Jangan khawatirkan keluarga yang menjadi korban, orang-orang tercinta yang terkapar di ruang perawatan, dan nakes yang sudah kewalahan dan kehilangan harapan, jika pencegahan wabah setengah-setengah dan bukan persoalan prioritas penanganan,” sambungnya.

Lanjut Niam, ketika disuarakan kekesalan nakes dengan ungkapan “Indonesia Terserah” banyak yang mengeluh. Ketika dianjurkan upaya pencegahan dengan prokes 5M, banyak yang abai bahkan para pemimpinnya ikut-ikutan tidak patuh.

“Apakah harus menunggu datangnya penyesalan, ketika Indonesia menjadi India selanjutnya? Na’udzu billah min dzalik, tsumma nastaghfirullah al’adzim,” ucap dokter yang juga anggota Endoscopic and Laparoscopic Surgeons of Asia (ELSA) itu.

Dia lantas membandingkan saat Wali Kota Malang, Sutiaji menggelar ultah di tengah pandemi Covid-19 dengan mengundang sejumlah anak panti asuhan, keluarga, serta beberapa staf pada Mei 2020.

“Itu saja ribut orang Malang, gitu lho. Ini malah besar-besaran kayak gitu, dan ditengarai Jatim itu varian-varian baru sudah masuk. Itu kan ya namanya pembiaran,” katanya.

Tak Bisa Jadi Teladan

REAKSI KERAS: Dokter Muhammad S Niam, gemas lihat pemimpin tidak bisa menjadi teladan di masa pandemi Covid-19. | Foto: IST
REAKSI KERAS: Dokter Muhammad S Niam, gemas lihat pemimpin tidak bisa menjadi teladan di masa pandemi Covid-19. | Foto: IST

Niam merasa jengkel, karena semua pihak, terutama dokter yang menangani langsung pasien dan menyiapkan prokes secara teliti sudah bekerja mati-matian, termasuk membuat hidup tak senormal sebelumnya dan banyak rumah sakit gulung koming (kelimpungan), itu semua karena tekad agar Covid-19 segera berakhir.

“Maka ketika melihat pemimpin, kepala daerah seperti itu, gemasnya bukan main. Kalau mau dibilang marah, ya marah lah! Marah dan kecewa gitu, karena pemimpin yang harusnya menjadi teladan tidak bisa jadi teladan,” katanya.

Di sisi lain, kerumunan di pesta ultah ke-56 Khofifah berpotensi memunculkan klaster baru. “Bisa saja, bisa saja, bisa saja. Tapi nanti yang dituduh paling mudik. Ah, gara-gara mudik, bukan karena ini, gitu kan. Berlindung di bawah itu, gitu lho,” katanya.

Sebelumnya, dalam video yang beredar luas di media sosial dan diunggah sejumlah channel Youtube, termasuk YuTimes dan MPS TV, memperlihatkan kerumunan dalam pesta ultah ke-56 Khofifah yang dihadiri artis ibu kota, Katon Bagaskara.

Matur sembah nuwun Pak Emil, matur nuwun Bu Khofifah. Terima kasih banyak bapak ibu, terima kasih untuk datang di pesta saya,” seloroh Katon dalam video yang disambut tawa undangan.

“Eh, maksud saya, pesta ulang tahun gubernur, tepuk tangan sekali lagi, terima kasih banyak,” sambung vokalis Kla Project itu, disusul nyanyian lagu Selamat Ulang Tahun dan saat bersamaan undangan terlihat berkerumun.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona