Perlu Tahu! Ini 3 Makna Ketupat dalam Perspektif Rektor Unusa

MAKNA KETUPAT: Ada makna subtansi, simbolis dan tradisi di balik ketupat dalam tradisi masyarakat Jawa. | Foto: IST
MAKNA KETUPAT: Ada makna subtansi, simbolis dan tradisi di balik ketupat dalam tradisi masyarakat Jawa. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketupat tak sekadar menu istimewa saat Lebaran. Lebih dari itu, ada makna tak kalah spesial dari makanan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan daun janur kelapa — di beberapa wilayah Pantura memakai daun pohon siwalan — tersebut.

Menurut Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof Achmad Jazidie setidaknya ada tiga makna dari ketupat Lebaran, yakni substansi, simbolis dan tradisi atau ritual sebagai bentuk ibadah bagi masyarakat Jawa.

Makna Substansi. Lebaran ketupat, tutur Prof Jazidie, sesungguhnya adalah tradisi perayaan puasa Syawal, atau enam hari setelah hari pertama perdana Idul Fitri karena pada 1 Syawal umat Islam diharamkan berpuasa.

“Pada saat bulan Syawal, ada ajaran yang sangat dianjurkan atau ajaran puasa sunah selama enam hari yang disebut puasa Syawal,” katanya.

“Di masyarakat Jawa, sampai sekarang ada yang memegang tradisi tersebut sangat kuat sekali. Begitu selesai Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal, besoknya nyambung untuk menjalankan ibadah puasa sunah enam hari,” sambungnya.

Nah, usai puasa enam hari itulah, kemudian pada 8 Syawal dikenal dengan Riyoyo Kupat atau Lebaran Ketupat. Tradisi ini di sebagian masyarakat Jawa masih sangat kuat melekat.

Namun seiring berjalannya waktu, tidak semuanya menjalankan ajaran puasa sunah di bulan Syawal. Meski demikiam, urusan Lebaran Ketupat tetap dijalankan.

“Ini salah satu kekuatan tradisi, substansinya kadang-kadang hilang. Makanya itu sudah jarang dijalankan tapi Lebaran Ketupat tetap jalan. Tapi setidaknya Lebaran Ketupat mengingatkan bahwa ada ibadah lain saat bulan Syawal usai puasa Ramadhan,” jelasnya.

Makna Simbolis. Menurut Prof Jazidie, ketupat atau dalam bahasa Jatim disebut kupat yang dimaknai sebagai “ngaku lepat” (mengaku salah dan khilaf).

“Dengan saya membuat kupat, selain sebagai tradisi makan keluarga juga dibagikan ke tetangga. Jadi itu semacam deklarasi mengekspresikan aku ngaku salah selama ini, semacam ekspresi tanpa diucapkan,” tuturnya.

IKATAN SOSIAL: Anyaman ketupat, simbol ikatan yang sangat kuat dalam keluarga dan masyarakat. | Foto: IST
IKATAN SOSIAL: Anyaman ketupat, simbol ikatan yang sangat kuat dalam keluarga dan masyarakat. | Foto: IST

Makna Tradisi. Makna lain ketupat yakni membangun ikatan sosial. Jika dilihat, ketupat terbuat dari anyaman daun kelapa. Anyaman sebagai simbol satu ikatan yang sangat kuat.

Membuat ketupat bisa ditafsirkan sebagai ekspresi pengakuan kekhilafan, kesalahan dan tentu saja kemudian dilanjutkan dengan permintaan maaf.

“Ketupat disimbolkan dengan anyaman yang saling mengikat yang terbuat dari daun kelapa, menyimbolkan dibangunnya kembali ikatan sosial dan kekeluargaan,” katanya.

“Setelah saling memaafkan, diharapkan terbentuk kembali suatu ikatan sosial yang begitu kuat, sehingga membangun kehidupan masyarakat menjadi lebih baik,” urainya.

Jika diperhatikan lebih dalam lagi, lanjut Prof Jazidie, ketupat terbentuk tiga dimensi atau ruang dan bukan bidang.

Sehingga, maksud dari pengakuan kesalahan itu tidak terbatas pada bidang datar antarkeluarga saja, tetapi juga ke masyarakat luas.

“Para tetangga lebih luas lagi atau spasial tidak bidang datar. Tidak hanya sesama anggota keluarga, sanak kadang sedulur famili, tetapi juga dengan mereka yang tidak ada hubungan kekeluargaan. Tiga dimensi isi dari dimensi dunia ini,” jelasnya.

Lantaran kultur dan karakter daerah berbeda-beda, maka beragam pula menu pendamping ketupat sebagai makanan spesial di saat Lebaram.

Di Madura ada Ketupat Bawang, di Betawi ada Ketupat Sayur Betawi dan di Tegal ada Kupat Glabed yang dihidangkan dengan kuah kental.

» Baca Berita Terkait Lebaran