Lawan PDIP di Surabaya, Golkar: Tak Ada Kekuatan yang Hakiki!

GOLKAR SELALU OPTIMIS: Aan Ainur Rofik, Golkar optimistis di Pilwali Surabaya 2020. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
GOLKAR SELALU OPTIMIS: Aan Ainur Rofik, Golkar optimistis di Pilwali Surabaya 2020. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sejak era reformasi, calon yang diusung PDIP selalu memenangi pertarungan di Pilwali Surabaya. Kemenangan diawali pada Pilwali 2005 lewat Bambang DH yang berpasangan dengan Arif Afandi.

Disusul kemenangan berikutnya di Pilwali 2010 melalui duet Tri Rismaharini alias Risma dengan Bambang DH, dan berlanjut di Pilwali 2015 lewat Risma yang dipasangkan dengan Whisnu Sakti Buana.

Menjelang Pilwali 2020, label PDIP sebagai Parpol penguasa juga belum luntur. Hasil Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 menempatkan PDIP sebagai Parpol pemenang dengan meraih 15 kursi di DPRD Surabaya.

Situasi ini membuat PDIP menjadi Parpol yang seksi di mata kandidat, dan laris manis saat membuka penjaringan bakal calon wali kota dan wakil wali kota. Diikuti 18 kandidat baik kader maupun non kader.

Tapi semua itu tak membuat Golkar silau. Parpol penguasa di era Orde Baru tersebut tetap optimistis andai jagoannya harus berhadapan dengan calon dari PDIP di Pilwali Surabaya 2020.

“Terkait yang kita hadapi penguasa, roda selalu berputar, tidak ada kekuatan yang hakiki. Kalau kita yakin dengan kekuatan yang ada, optimis, kita bisa memenangkan pertarungan,” kata Wakil Sekretaris bidang Pemenangan Pemilu DPD Partai Golkar Jatim, Aan Ainur Rofik pada Barometerjatim.com, Minggu (22/9/2019).

Lantas, siapa jagoan yang akan diusung Golkar? Aan menegaskan, partainya akan memprioritaskan kader. “Kita itu selalu optimis dengan kader,” tegas mantan Caleg di Pileg 2019 tersebut.

Apakah kader itu Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans, yang juga menjabat salah seorang wakil ketua di DPD Golkar Jatim?

Aan belum mengiyakan. Namun dia menyebut mantan Jubir Khofifah-Emil Dardak di Pilgub Jatim 2018 itu punya modal untuk running. “Gus Hans punya popularitas. Selain kader partai, beliau juga Nahdliyin (warga NU),” katanya.

Selain itu, Gus Hans berpeluang didukung mesin Golkar, Parpol yang matang dalam menghadapi berbagai event demokrasi. “Selain figur, struktur partai juga akan menentukan,” tegasnya.

Bagaimana dengan koalisi, mengingat Golkar hanya memiliki lima kursi di DPRD Surabaya?

Aan menyebut Golkar punya komitmen komunikasi dengan Nasdem dan Hanura. Kalaupun dijalankan dan deal, Golkar masih butuh tambahan dua kursi lagi, mengingat Nasdem hanya memiliki tiga kursi dan Hanura tanpa kursi.

“Tapi urusan koalisi sepenuhnya kewenangan Golkar Surabaya. Saya berharap Nasdem bisa berkomunikasi dengan Golkar di Surabaya,” katanya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, Golkar