Lama Menanti! Demokrat Ngebet Punya Wali Kota Surabaya

SIAP JEMPUT TAKDIR: Agus Harimurti Yudhoyono, Demokrat ngebet punya wali kota Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH
SIAP JEMPUT TAKDIR: Agus Harimurti Yudhoyono, Demokrat ngebet punya wali kota Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH

SURABAYA, Barometerjatim.com – Partai Demokrat rupanya ngebet memiliki wali kota Surabaya. Sampai-sampai berharap Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak yang dimenangkannya di Pilgub Jatim 2018 agar turut mengampanyekan Machfud Arifin-Mujiaman di Pilwali Surabaya 2020.

“Kalau tadi disampaikan pingin enggak sih Demokrat punya wali kota Surabaya? Sangat pingin, sudah lama nunggu, sudah 20 tahun,” ujar Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat konsolidasi dengan Machfud-Mujiaman di Hotel Oakwood, Surabaya, Kamis (26/11/2020).

“Jadi kalau ini pecah telur Pak MA (Machfud Arifin)-Pak Mujiaman, kita selamatan. Insyaallah, insyaallah, kita menjemput takdir, insyaallah untuk sesuatu yang mulai dan baik,” sambungnya.

Karena itu, selain berharap Khofifah-Emil turut mengampanyekan Machfud-Mujiaman, Demokrat sudah menginstruksikan seluruh kadernya, termasuk kader utama yang ada di fraksi DPRD untuk bergerak.

“Tentu kami arahkan, kami instruksikan semua. Kalau ada yang belum optimal nanti kami ingatkan, yang jelas tujuannya sama untuk memenangkan paslon Pak MA dan juga Pak Mujiaman,” tandasnya.

Terkait harapan agar Khofifah-Emil turut mengampanyekan Machfud-Mujiman, kata AHY, karena Demokrat menginginkan bisa terbangun sinergi yang baik antara kepemimpinan di Jatim dan Surabaya.

“Tentu ada harapan dari kami, bahwa akan sangat ideal kalau gubernur Jatim yang Partai Demokrat usung sukses, dan di Kota Surabaya juga sama, yang Partai Demokrat usung dan sukses,” katanya.

Jika terwujud, tandas AHY, akan ada kombinasi, sinergi, kolaborasi yang baik dan efektif antara pemimpin di tingkat Jatim dan Surabaya. Apalagi pemerintahannya di kota yang sama.

Meski demikian, AHY memahami posisi Khofifah dan Emil sebagai pejabat publik. Menurutnya, Demokrat tahu etika politik, memahami posisi formal keduanya sebagai pemimpin publik. Ada aturan mainnya, apalagi misalnya kalau tidak sedang cuti.

“Tapi tentu ada lah harapan, kerja-kerja politik yang bisa dilakukan. Mengapa? Karena tujuannya sama, untuk bisa menghadirkan pemimpin untuk Surabaya yang lebih baik lagi,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya