Gus Hans: Rizieq Orang Biasa, Jangan Direspons Berlebihan!

JANGAN BERLEBIHAN: Gus Hans, Habib Rizieq Shihab orang biasa, jangan direspons berlebihan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
JANGAN BERLEBIHAN: Gus Hans, Habib Rizieq Shihab orang biasa, jangan direspons berlebihan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), KH Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans turut menyoroti ketegangan antara pihak Kodam Jaya dengan Habib Rizieq Shihab dan pendukungnya gara-gara pencopotan baliho bergambar Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) tersebut.

Menurut Gus Hans, sebaiknya kedua belah pihak mengurangi tensi jangan sampai urusan elite menjadi permasalahan di level grass root karena bisa menimbulkan kekacauan yang tidak perlu. Terlebih Rizieq orang biasa, sama dengan warga masyarakat lainnya.

“Saya melihat tidak perlu merespons berlebihan, Rizieq ini kan ya orang biasa, masyarakat biasa. Kalau misalnya, presiden sampai memerintahkan menteri dan sebagianya, memang dia ini siapa?” katanya, Senin (23/11/2020).

Justru, Gus Hans mencurigai ulah yang dilakukan Rizieq sekembalinya ke Tanah Air memang disengaja. “Jangan-jangan ini yang dicari. Maka biarkan saja itu (urusan baliho) diselesaikan di level gubernur, level kota, dan sebaginya,” katanya.

Meski demikian, Gus Hans yang juga Sekjen Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) — elemen pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019 — mengkritisi model komunikasi low context Rizieq.

“Saya kira model komunikasi low context (blak-blakan) yang disampaikan Habib Rizieq ini memang harus menjadi koreksi kita bersama, tentang bagaimana kita harus memberikan pencerahan kepada umat,” katanya.

“Jika kita bisa mengatur tata ucapan yang baik, komunikasi dakwah yang baik, insyaallah tidak akan terjadi hal seperti ini,” imbuh kiai muda asal Jombang tersebut.

Sebaliknya, kata Gus Hans, jika TNI menggunakan kekuatan TNI-nya maka dikhawatirkan justru menimbulkan kristalisasi kecintaan orang kepada seseorang.

“Karena keyakinan itu jika ditekan akan semakin menguat. Maka perlu ada pendekatan yang dengan tidak secara represif, tapi bersifat kemanusiaan. Nah, ini maka kita perlu saling instropeksi,” ujarnya.

Kebijakan Pangdam Jaya

Dari Jakarta, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Achmad Riad menegaskan petinggi di jajaran Markas Besar (Mabes) TNI tidak ada yang pernah memerintahkan untuk menurunkan baliho Rizieq. Menurutnya, perintah tersebut hanya ada di jajaran Komando Daerah Militer Jayakarta (Kodam Jaya) saja.

Pernyataan Riad ini menjawab soal viralnya video pencopotan baliho Rizieq oleh sejumlah pria berbaju loreng, dan pernyataan Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman yang mengaku bahwa kegiatan tersebut atas perintahnya.

“Tidak ada (perintah) pencopotan baliho kalau di Mabes. Itu kebijakan Panglima Kodam Jaya sendiri, karena melihat situasi di lapangan,” ujar Riad saat dikonfirmasi wartawan.

Namun langkah Dudung, menurut Riad, mendapat dukungan penuh dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

“Tentunya Panglima TNI mendukung, dalam arti kata Panglima TNI memang tidak perlu mengeluarkan perintah. Karena yang tahu situasi di daerah adalah Pangdam,” katanya.

» Baca Berita Terkait Habib Rizieq, TNI