Golkar Belum Final ke Machfud Arifin, Tunggu Gus Hans?

PILWALI SURABAYA: Gus Hans bersama warga NU dan relawan Whisnu di depan langar tempat Bung Karno kecil mengaji | Foto: Barometerjatim.com/ROY
PELUANG: Gus Hans bersama warga NU dan relawan Whisnu di depan langgar tempat Bung Karno kecil mengaji | Foto: Barometerjatim.com/ROY

SURABAYA, Barometerjatim.com – Menguatnya wacana duet Whisnu Sakti Buana-Zahrul Azhar Asumta di Pilwali Surabaya 2020, berpotensi besar menggerus tatanan Parpol bakal pengusung duet Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno.

Terlebih, Golkar — Parpol tempat Gus Hans bernaung — belum final mengusung Machfud. Selama ini, langkah dukungan yang diberikan baru sebatas surat tugas, belum rekomendasi.

“Ini saya perlu klarifikasi dulu. Golkar itu belum memberikan rekomendasi kepada Machfud, baru memberikan surat tugas. Surat tugas itu beda dengan rekomendasi,” Ketua Pengurus Daerah Kolektif (PDK) Kosgoro 1957 Jatim, Yusuf Husni, Minggu (30/8/2020).

Surat tugas, menurut Yusuf, diberikan agar kandidat penerima tugas bisa menyelesaikan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk maju sebagai bakal calon wali kota.

“Apabila surat tugas itu terpenuhi, baru tahapan berikutnya Golkar akan merokomendasi. Jadi sekarang rekomendasi itu belum, baru surat tugas!” tandas Yusuf.

Artinya dukungan Golkar untuk Machfud bisa berubah sebelum didaftarkan ke KPU Surabaya? “Bisa ya, bisa tidak. Berarti peluangnya bukan 100 persen rekomendasi gitu lho,” kata Yusuf.

“Itu dari sisi selama ini banyak yang memposisikan bahwa Golkar sudah merekomendasi. Ini perlu saya klarifikasi, Golkar belum memberikan rekomendasi, baru dalam bentuk surat tugas,” sambungnya.

Dari sisi lain, lanjut Yusuf, andai Machfud mampu melaksanakan sesuai dengan penugasan yang diberikan Golkar, maka memungkinkan rekomendasi diberikan ke mantan Kapolda Jatim tersebut.

Sumber Barometerjatim.com di DPP Partai Golkar menuturkan, kalau tidak ada perubahan Senin (31/8/2020) hari ini Golkar akan menerbitkan rekomendasinya untuk pasangan calon di Pilkada 2020, tapi tidak termasuk untuk Pilwali Surabaya.

Jika benar, maka bisa jadi Golkar akan menunggu kepastian PDIP mengusung Gus Hans atau tidak. “Kalau Gus Hans akhirnya diusung PDIP, Golkar sangat mungkin lebih mendukung kadernya,” ucap sumber tersebut.

Apalagi, menurut Husni, kalaupun Golkar tetap mengusung Machfud, Gus Hans maupun kader lain Partai Beringin masih dimungkinkan maju dengan ‘kendaraan’ lain.

“Golkar itu partai kader. Partai kader itu memberikan penghargaan kepada seluruh kadernya untuk mengaktualisasi selama masa baktinya sebagai seorang kader, dan diuji pada momen-momen politik seperti itu,” katanya.

Hargai Pengabdian Kader

GOLKAR HARGAI KADER: Yusuf Husni, Gus Hans bisa berangkat dari kendaraan lain asal tak membawa organ Golkar. | Foto: IST
GOLKAR HARGAI KADER: Yusuf Husni, Gus Hans bisa berangkat dari kendaraan lain asal tak membawa organ Golkar. | Foto: IST

Dengan demikian, tandas Yusuf, momen politik — baik itu Pileg maupun Pilkada — menjadi masa di mana seorang kader Golkar akan menguji aktualisasinya selama kurun waktu sebagai kader.

“Jadi masa pengabdian seorang kader itu harus dihargai, partai kader seperti itu,” tegas mantan anggota DPRD Surabaya dan DPRD Jatim tersebut.

Jika Golkar akhirnya mengusung MA, bukankah Gus Hans harus patuh dengan keputusan partai? “Lho ndak ada, itu hak politik, tapi harus ada persyaratan, Gus Hans maju tidak atas nama organ Golkar,” jelasnya.

“Pribadi ini dipersilakan maju sebagai bentuk penghormatan, penghargaan terhadap kader selama kurun waktu tertentu tadi,” tuntas Yusuf yang juga dzuriyah Laskar Hizbullah Jatim.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya