Pilwali Surabaya, Kosgoro: PDIP Cerdas Kalau Pilih Gus Hans!

NU MILENIAL: Gus Hans, kader NU potensial yang juga milenial, berpeluang besar diusung PDIP di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
NU MILENIAL: Gus Hans, kader NU potensial yang milenial, berpeluang besar diusung PDIP di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketua Pengurus Daerah Kolektif (PDK) Kosgoro 1957 Jatim, Yusuf Husni menyebut PDIP sebagai partai politik yang cerdas jika memilih Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans untuk mendampingi kader merah di Pilwali Surabaya 2020.

“Kalau memang itu benar-benar terjadi, PDIP sangat cerdas secara politik!” katanya kepada Barometerjatim.com, Rabu (26/8/2020), menanggapi makin mesranya pendukung Whisnu Sakti Buana dengan Gus Hans jelang rekom PDIP diterbitkan.

Terbaru, pendukung Whisnu yang tergabung dalam tim Bledek, menemani Gus Hans saat melakukan jejak sejarah ke makam KH Ridlwan Abdullah (pencipta lambang Nahdlatul Ulama/NU), Langgar Dukuh Kayu (tempat ngaji Bung Karno semasa kecil) dan makam KH Sayid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon (pemberi nama NU).

Gus Hans sendiri, merasa mendapat perlakuan khusus dari PDIP setelah beberapa hari lalu diminta mendaftar penjaringan — di saat pendaftaran di tingkat DPC dan DPD sudah ditutup — sebagai bakal calon wakil wali kota lewat DPP.

Yusuf melanjutkan, cerdas yang dimaksud yakni PDIP bisa menangkap peluang kalau sosiokultural masyarakat di Surabaya tidak hanya nasionalis (merah) tapi juga agamis (hijau) dengan mayoritas dari kalangan NU.

“Apalagi, saya melihat, dari dua kandidat yang ada — baik Machfud Arifin/Mujiaman maupun bakal calon dari PDIP yang beredar — tidak ada yang ke-NU-annya kental,” katanya.

Jangan lupa, tandas Yusuf, PKB memiliki suara besar di Jatim tidak lepas dari histori kalau dulu Parpol pemenangnya adalah NU. Begitu juga di Jateng, sekarang dikuasai PDIP karena semula basis PNI, dan PKS suaranya terbanyak di Jabar lantaran akarnya Masyumi.

“Jadi kalau ternyata PDIP pilih kader NU, berarti sangat cerdas, sebab basis massa di Jatim itu NU. Semua itu ada historinya,” katanya.

Termasuk di Pilwali Surabaya 2020 jika PDIP memilih Gus Hans yang berakar NU dan pesantren? “Ya, cerdas secara politik itu!” tandas Yusuf yang juga dzuriyah Laskar Hizbullah Jatim.

Lagi pula, selain kader NU, Gus Hans termasuk milenial dengan jumlah pemilih hampir 60 persen di Surabaya. “Gus Hans selain Nahdliyin juga milenial. Jadi sangat cerdas itu PDIP kalau benar pilih Gus Hans,” katanya.

Lantas bagaimana dengan status Gus Hans yang kader Golkar? Menurut Yusuf tidak masalah karena Golkar partai kader. Artinya Golkar adalah partai yang memberi penghargaan kepada kader selama masa baktinya.

“Kalau misalnya Golkar sudah mengusung calon lain, Gus Hans tetap bisa maju di tempat lain tapi syaratnya tidak boleh menggunakan organ Golkar,” katanya.

“Jadi masa pengabdian seorang kader itu harus dihargai, partai kader seperti itu,” tuntas Yusuf yang mantan anggota DPRD Surabaya dan DPRD Jatim dari Fraksi Partai Golkar.

LANGGAR BUNG KARNO: Gus Hans di Langgar Dukuh Kayu, tempat ngaji Bung Karno semasa kecil. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
LANGGAR BUNG KARNO: Gus Hans di Langgar Dukuh Kayu, tempat ngaji Bung Karno semasa kecil. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya