Dr Joni: RS di Jatim Kesulitan Operasikan Ventilator Buatan AS

CURHAT VENTILATOR: Joni Wahyuhadi, wadul soal ventilator buatan AS ke Dody Ruswandi (inset). | Foto: Capture Webinar
PROBLEM VENTILATOR: Joni Wahyuhadi, curhat soal ventilator buatan AS ke Dody Ruswandi (inset). | Foto: Capture Webinar

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tak hanya Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Widodo Iryansyah yang blak-blakan soal beberapa rumah sakit (RS) di Jatim gagap mengoperasikan ventilator. Dirut RSUD dr Soetomo, dokter Joni Wahyuhadi juga mengungkap hal serupa.

Kesulitan beberapa RS mengawaki ventilator tersebut disampaikan Joni kepada Plt Deputi 3 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dody Ruswandi saat ditanya terkait bantuan ventilator kiriman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk Jatim yang didatangkan dari Amerika Serikat (AS).

“Pak Dokter, bantuan ventilator yang dari Kemenkes yang baru datang dari Amerika sudah sampai di Jatim belum ya?” tanya Dody melalui Rapat Koordinasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Jatim secara daring, Rabu (22/7/2020).

Menurut Joni, ventilator tersebut sudah dibagikan ke seluruh RS di Jatim. Namun beberapa di antaranya belum terpakai, lantaran pihak RS masih kesulitan mengoperasikan.

“Ventilator yang dari Kemenkes sudah kita bagi-bagi ke seluruh rumah sakit, ada yang belum terpakai malah,” jawab dokter yang juga ketua Gugus Kuratif Percepatan Penanganan Covid-19 Pemprov Jatim itu.

“Jadi beberapa ventilator itu ternyata harus memerlukan keahlian. Ini kawan-kawan kami, para intensivis, menyimpulkan justru ventilator itu diperlukan keahlian khusus. Perawatnya juga khusus, dokter anastesinya juga harus khusus,” paparnya.

“Ventilator yang dari Kemenkes sudah kita bagi-bagi ke seluruh rumah sakit, ada yang belum terpakai malah.”

Agar tidak menyulitkan, Joni meminta sebaiknya Kemenkes mengirimkan HFNC (High Flow Nasal Cannula) atau alat terapi oksigen beraliran tinggi, mengingat pengoperasiannya lebih mudah dan hasilnya jauh lebih baik.

“Kalau HFNC lebih sederhana dan ternyata dari pengamatan kita oktannya jauh lebih baik,” tandas Joni.

Seperti diketahui, HFNC adalah teknologi pertama di Indonesia ciptaan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang dirancang untuk membantu pasien Covid 19, sekaligus yang pertama pula lolos uji dari Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Kemenkes.

Belajar dari RS Lapangan

Lagi pula, lanjut Joni, ada temuan menarik bahwa pasien yang sudah mulai hipoksia dan segera dilakukan resusitasi dengan HFNC, ternyata menunjukkan hasil luar biasa.

“Dari semua pasien yang dilakukan resusitasi awal dengan HFNC itu 100 persen tidak jatuh di dalam ventilator, sehingga angka kesembuhannya lebih cepat dan 100 persen tidak ada mortalitas (kematian),” ujar Joni.

“Sebagian resusitasi terpaksa ditangani dengan non invasif ventilator, yang di dalamnya kita dapatkan separuhnya mortality-nya sekitar 50 persen,” jelasnya.

Artinya, papar Joni, di dalam perawatan Covid-19 yang paling penting adalah monitoring ketat. Jangan sampai pasien jatuh dalam hipoksia yang berat.

Karena itu, di RS Lapangan yang dipimpin Pangkogabwilhan II angka kesembuhannya bagus karena memang deteksinya luar biasa. Tidak boleh sampai jatuh ke arah yang sedang alias monitoringnya ketat.

“Di RS-RS mungkin ini perlu dikembangkan. Jadi monitoring ketat hipoksia dengan memasang satu rasi dan satu rasi itu bisa diketahui oleh para petugas dengan monitor maupun secara langsung,” katanya.

Tapi kalau langsung memang ada kesulitan. Joni mengusulkan, barangkali nanti setiap pasien yang sudah ada sesak-sesak yang ringan sudah mulai dimonitor saturasinya, kemudian kalau kita temui ada hipoksia ringan segera kita resusitasi.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona