Dokter Syifa Sindir Khofifah: Apa Kesaktian Orang Madura Hilang?

LAWAN COVID-19: Dokter Syifa Mustika saat melakukan swab antigen terhadap relawan GP Ansor. | Foto: Barometerjatim.com/IST
LAWAN COVID-19: Dokter Syifa Mustika saat melakukan swab antigen kepada relawan GP Ansor. | Foto: Barometerjatim.com/IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketua Satgas Covid Nahdlatul Ulama (NU) Malang Raya, dokter Syifa Mustika SpPD KGEH FINASIM menganalisis, membludaknya Covid-19 di Bangkalan sebenarnya predictable alias bisa diprediksi karena kesadaran masyarakat Madura dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes) 5M memang masih rendah.

“Artinya begini, mundur sedikit ke belakang ya, kalau bahasanya kan los dol. Teman-teman saya nakes (tenaga kesehatan) juga banyak yang di Pemekasan, itu di awal-awal pandemi Covid-19 paling susah memberikan edukasi untuk warga di sana, enggak ada yang pakai masker dan sebagainya,” paparnya.

Imbasnya, data-data yang disampaikan bisa jadi tidak sesuai, karena sebetulnya realita angka pasti jauh lebih tinggi. Jika dirata-rata bisa 4 atau 5 kali lebih tinggi dari laporannya. Bukan sebaliknya, di Madura tak ada Covid-19 karena ‘orangnya sakti-sakti’.

“Jadi itu (lonjakan Covid-19 di Bangkalan) sebenarnya kalau kita memang beneran niat, bisa diprediksi dan bisa dicegah. Namun habis lebaran sampai ada statemen Ibu Gubernur (Khofifah Indar Parawansa) yang dibilang orang Madura sakti-sakti,” kata dokter spesialis penyakit dalam tersebut.

“Ya ampun, itu guyonan yang gak banget gitu kalau menurut saya pribadi. Itu malah membuat nakes-nakes di sana down, karena realitanya tidak seperti itu. Di sisi lain orang-orang yang enggak menjalankan prokes di sana bangga.”

Bahkan, tandas Syifa, sampai-sampai muncul meme kalau di Madura Covid-19 dizalimi dan sebagainya yang justru memunculkan hal-hal kontraproduktif. Sehingga dari sisi relawan, dokter, semakin repot dalam mengedukasi karena poin penekanan dan penegasan prokesnya tidak ada.

“Ya itu ibaratnya malah didukung, dilegitimasi. Ibaratnya ada support dari pimpinan daerah sampai statemen seperti itu. Gimana ya, itu kontraproduktif, guyonan enggak pada tempatnya lah,” ujar dokter penulis buku The New Normal Life, Panduan Menjalani Tatanan Kehidupan Baru di Tengah Pandemi Covid-19 itu.

“Sekarang ada kasus seperti itu beliau mau ngomong apa? Apa kesaktiannya (orang Madura) hilang? Enggak juga kan! Sebetulnya itu kan fonomena gunung es kalau terkait Covid-19 ini. Apa yang terlihat di atas sebenarnya di bawah lebih parah lagi.”

Artinya pimpinan daerah harus menjaga statemen, termasuk candaan yang tak produktif di masa pandemi Covid-19?

“Menurut saya seperti itulah. Pandemi Covid-19 ini ndak akan selesai, teratasi, kalau hanya sepihak. Ibaratnya cuma dititikberatkan pada medis, ya enggak jalan,” kata Syifa.

“Harus ada kerja sama yang harmonis, senada, seirama, ya pemimpinnya, nakesnya dan masyarakat,” tegas dokter yang juga anggota Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU tersebut.

Canda Usai Lebaran

COVID-19 URUSAN BERSAMA: Dokter Syifa Mustika saat melakukan edukasi pemakain masker. | Foto: Barometerjatim.com/IST
COVID-19 URUSAN BERSAMA: Dokter Syifa Mustika saat melakukan edukasi pemakain masker. | Foto: Barometerjatim.com/IST

Seperti diberitakan, seloroh Khofifah yang menyebut “orang Madura sakti-sakti” terlontar saat melakukan kunjungan kerja di kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Senin (17/5/2021).

Dalam pertemuan itu, Kepala Dishub Nyono dan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), Herlin Ferliana masing-masing memberi pemaparan terkait kondisi saat pemberlakuan screening Covid-19 di Poskes selama liburan Hari Raya Idul Fitri 1442 H, 6-17 Mei 2021.

“Lapor Ibu, hanya ada 38 orang yang positif rapid antigen saat dilakukan screening di beberapa titik penyekatan mulai 6-17 Mei 2021,” kata Herlin. “Untuk pos penyekatan di Suramadu nihil yang positif rapid antigen Bu,” sambungnya.

Kepala UPT Dishub Jatim di Bangkalan, Wahab melalui virtual juga mengatakan tidak adanya orang Madura yang diperiksa dan nihil positif rapid antigen.

“Orang Madura itu sakti-sakti,” kata Khofifah setengah bercanda, menanggapi nihilnya orang Madura yang positif rapid antigen saat masuk Surabaya melalui Jembatan Suramadu.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona