Dibongkar! Warkop di Gresik Sediakan PSK Tarif Rp 150 Ribu

BONGKAR PROSTITUSI: Tersangka bisnis prostitusi berkedok Warkop di Kedamean, Gresik. | Foto: Barometerjatim.com/DANI IQBAAL
BONGKAR PROSTITUSI: Tersangka bisnis prostitusi berkedok Warkop di Kedamean, Gresik. | Foto: Barometerjatim.com/DANI IQBAAL

GRESIK, Barometerjatim.com – Lazimnya warung kopi (Warkop), dagangan yang dijual ya harusnya kopi. Tapi Warkop milik Pramuji di Desa Banyuurip, Kecamatan Kedamean, Gresik ini malah menyediakan Pekerja Seks Komersial (PSK).

Sekitar setahun berjalan, praktik prostitusi berkedok Warkop yang dilakukan pria 45 tahun tersebut akhirnya dibongkar Tim Resmob Polres Gresik.

“Kita gerebek Rabu malam itu. Ada catatan buku tamu yang datang, kemudian kita amankan beserta uang Rp 200 ribu di dalamnya dan handphone. Kita sita untuk barang bukti,” tutur Wakapolres Gresik, Kompol Dhyno Indra Setyadi di Mapolres Gresik, Jumat (17/1/2020).

Ya, Pramuji rupanya tergiur dengan keuntungan besar lebih dari sekadar jualan kopi. Dia pun memilih menyediakan beberapa wanita muda, rata-rata berusia 19 sebagai pelayan di Warkopnya.

Ada enam wanita muda saat penggerebekan. Mereka didatangkan dari Jabar sebagai pelayan, sekaligus bisa diajak ‘indehoi’ dengan tarif Rp 150 ribu sekali kencan di bilik semi permanen, lengkap dengan kasur dan tissue.

Uniknya, tamu harus mengisi buku tamu yang disediakan oleh Pramuji sebagai laporan penghasilannya. “Tersangka menjalankan bisnis prostitusi berkedok warung kopi, sekaligus bertindak sebagai mucikari,” kata Dhyno.

Sementara Pramuji, di hadapan petugas kepolisian mengaku para wanita muda tersebut didatangkan dari Jabar melalui jasa anak buahnya yang lebih dulu bekerja dengannya.

“Sudah setahun bisnis gini. Untungnya besar, itu alasan saya, apalagi pas malam minggu. Mereka rata-rata tamatan SMA di Jabar dan nganggur. Lalu diajak kerja di Gresik oleh anak buah saya sebagai penjaga warung kopi plus,” terangnya.

Lalu untuk tamu yang booking, lanjut Pramuji, disediakan bilik di Warkopnya lengkap dengan kasur dan tissue. Pelanggannya rata-rata dari Gresik, Surabaya dan sekitarnya.

“Saya pasang tarif Rp 150 ribu sekali kencan dengan anak buah saya. Malam Minggu dan Minggu paling ramai pengunjung,” kata Pramuji dengan kepala tertunduk.

Apakah hanya enam wanita saja yang menjaga Warkopnya? Pramuji mengaku sebelumnya ada sembilan, namun tiga di antaranya pulang ke Jabar dan tidak kembali. “Jadi ada enam saja, kemudian ditangkap ini,” jelasnya.

» Baca Berita Terkait Prostitusi