UMK di Atas 4 Juta, 6 Pabrik di Jatim Relokasi dari Ring 1

BURUH DAN PERUSAHAAN: Buruh butuh kesejahteraan, perusahaan keberatan dengan UMK yang dinilai tinggi. | Foto: IST
BURUH DAN PERUSAHAAN: Buruh butuh kesejahteraan, perusahaan keberatan dengan UMK yang dinilai tinggi. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Selain 113 perusahaan mengajukan penangguhan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), enam perusahaan lainnya di Jatim memilih merelokasi pabriknya dari kawasan ring satu.

Keenam perusahaan tersebut telah melapor ke Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim. Kebanyakan bergerak di bidang industri alas kaki, peralatan golf dan topi.

UMK di Ring I tahun ini mengalami kenaikan di atas Rp 4 juta, meliputi Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Pasuruan.

“Kami belum tahu (jumlah keseluruhan perusahaan yang relokasi). Sementara kalau mereka yang sudah komunikasi dengan kami, ya kami kawal,” ujar Kepala Disnakertrans Jatim, Himawan Estu Bagijo, Kamis (15/1/2020).

Himawan menegaskan, soal relokasi perusahaan sebenarnya bukan wewenangnya. Tapi karena menyangkut tenaga kerja, maka kewajiban Disnakertrans turut juga mengawal.

“Kami arahkan mereka tetap di wilayah Jatim. Kami sudah tawarkan beberapa tempat ke Barat seperti Madiun, Ngawi, Jombang, Nganjuk,” tegasnya.

Beberapa perusahaan tertarik pindah di wilayah tersebut. Pertimbangannya, akses tol dan UMK lebih rendah dibanding ring satu. Bagi perusahaan yang bersedia relokasi ke wilayah tersebut akan difasilitasi, mulai dari pencarian lahan hingga pengurusan izin.

Bagaimana dengan pekerja? Himawan memastikan mereka ada yang bersedia pindah. “Jadi caranya begini, best line UMK, tapi ada tunjangan. Keterampilan mereka kan dianggap sudah pekerja yang expert. Jadi penerimaannya bisa Rp 4-5 juta,” sebut Himawan.

Selain itu, Disnakertrans juta mendorong perusahaan yang relokasi membuatkan asrama untuk pekerja. Tujuannya agar penghasilannya bisa lebih besar, atau minimal sama dengan sebelum pindah.

Sementara bagi pekerja yang tidak bersedia pindah, Disnakertrans akan menfasilitasi mencarikan pekerjaan di sekitar wilayah tinggalnya.

“Kami coba alihkan ke pekerjaan yang sudah ada outsourcing di wilayah itu. Tapi kebanyakan mau pindah. Karena mereka kebanyakan tahu kualitas dan jaminannya dari industri yang relokasi itu,” tegasnya.

Tinggal kini, lanjut Himawan, tantangannya adalah menyediakan pekerja di tempat baru. Karena itu, Disnakertrans akan memperkuat Balai Latihan Kerja (BLK), termasuk revitalisasi mulai dari materi pengajaran hingga peralatan praktik yang dibutuhkan.

Himawan memastikan dalam waktu dekat hal itu segera direalisasikan. “Tantangan tenaga kerja adalah mengimprovisasi keterampilan tenaga kerja di wilayah di luar (ring satu), sehingga revitalisasi BLK di wilayah itu sangat penting,” tandasnya.

» Baca Berita Terkait Pemprov Jatim