Akui Comot Foto, Tim Machfud: Kerugiannya di Mana sih?

PILWALI SURABAYA: Imam Syafi'i, akui timnya comot foto, minta maaf, tapi kerugiannya di mana? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILWALI SURABAYA: Imam Syafi’i, akui timnya comot foto, minta maaf, tapi kerugiannya di mana? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tim pasangan calon nomor urut dua di Pilwali Surabaya 2020, Machfud Arifin-Mujiaman mengakui foto editan yang terpasang di akun Instagram (IG) @cak.machfudarifin hasil mencomot.

Sebelumnya, foto yang memajang deretan penari tradisional yang diperagakan sejumlah pelajar di Surabaya itu diprotes pemiliknya. Selain tidak berizin karena dipakai untuk material kampanye di Pilwali Surabaya 2020 juga menghilangkan gambar Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma.

“Pertama, kita minta maaf karena memang itu kan yang dipersoalkan: Itu ambil foto kok enggak izin, ya kan? Yang kedua, kita take down-lah (sudah dihapus),” kata Direktur Pemberitaan Tim Mahfud-Mujiaman, Imam Syafi’i saat dihubungi Barometerjatim.com, Rabu (14/10/2020).

Selain itu, Imam yang juga anggota DPRD Surabaya menjelaskan alasan gambar Risma dalam foto di-crop. “Itu karena memang kami tidak ingin melibatkan seorang kepala daerah dalam urusan politik,” dalih politikus Partai Nasdem tersebut.

Selanjutnya, Imam berharap, timnya — khususnya tim kreatif yang menangani media sosial (medsos) — bisa mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.

“Ya mungkin ini bisa membuat kami makin hati-hati lah, baru kali ini (comot foto). Kalau menurut saya impact-nya, saya bukan meremehkan persoalan ini ya, sebetulnya kerugiannya di mana sih?” kata Imam.

“Ya itu tadi lho. Kok enggak pamit, terus menghapus, kayak gitu kan? Kok enggak izin, ya gitu kan? Sekali lagi, saya minta maaf kalau yang dipersoalkan ambil foto enggak izin yang punya,” sambungnya.

Imam juga mengakui jika tim medsosnya, karena banyak dihuni anak-anak muda, mungkin ada yang belum paham soal hak intelektual sehingga asal mengambil.

“Kadang-kadang dunia medsos itu arek nom-nom (anak muda). Ini kan timnya juga arek nom-nom, ya comot ae (kadang asal mengambil), itu ya. Misalnya mungkin ngomong tentang hak itu kan, tapi paling tidak ngasih tahu yang punya,” katanya.

Apalagi, beragam foto di era teknologi ini berseliweran Youtube, Google, atau medsos lainnya. Mungkin karena gambarnya bagus jadi terkadang langsung diambil.

Ditanya soal klarifikasi, Imam menegaskan bahwa pihaknya tak perlu melakukannya. “Enggak! Karena menurut kami, saya mendengar kabar terakhir, kan sudah di-take down,” tegasnya.

Lagi pula ini persoalan yang tidak terlalu fatal. “Mosok itu dianggap kesalahan sangat fatal luar biasa. Kalau dibilang salah, salah lah. (Masa) sampai harus jumpa pers, terus klarifikasi, ya enggak lah!” tandasnya.

Saat ini, pihaknya lebih fokus pada kerja-kerja pemenangan. “Menurut kami, menyapa warga kan lebih (penting) karena waktunya makin sempit,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya