Wawali ODP, Bukti Penanganan Corona di Surabaya Kacau?

WAWALI SURABAYA ODP: Whisnu Sakti Buana dalam satu kunjungan kerja. Kini berstatus ODP. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
WAWALI SURABAYA ODP: Whisnu Sakti Buana dalam satu kunjungan kerja. Kini berstatus ODP. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tudingan Anggota Komisi A DPRD Surabaya dari Partai Nasdem, Imam Syafi’i yang menyebut penanganan Corona (Covid-19) di Kota Pahlawan kacau, bisa jadi benar adanya.

Salah satu kekacauan yang dibongkar Imam, yakni terkait 18 warga Kedung Turi, Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, usai dipulangkan dari isolasi ternyata lima di antaranya positif hasil swab PCR.

Terlebih di saat tudingan Imam menggelinding bak bola panas, minimnya pendampingan medis bagi warga Kedung Turi turut berdampak terhadap Wakil Wali Kota (Wawali) Surabaya, Whisnu Sakti Buana.

Wawali yang juga Wakil Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 itu menjadi ‘korban’, lantaran saat ini harus menjalani isolasi mandiri dengan status Orang Dalam Pemantauan (ODP) usai mengunjungi warga Kedung Turi.

Kok? Ceritanya, bermula saat Whisnu mendapat kabar pemulangan 15 warga Kedung Turi usai menjalani isolasi di sebuah hotel di kawasan Gubeng Surabaya, Sabtu pekan lalu.

Dia lantas datang ke kampung tersebut untuk menguatkan dan menyemangati warga. Whisnu menyambangi pula beberapa warga pasca isolasi, sekaligus ingin mendengarkan pengalaman mereka.

Whisnu terkejut! Bayangkan, warga yang diisolasi mengeluh dan melaporkan tidak adanya pendampingan tenaga perawat, selimut, hingga vitamin dan makanan. Padahal, selama ini laporan yang diterima baik-baik saja.

“Saya jadi tahu ternyata kondisinya seperti itu, karena laporan yang sampai ke kami yang bagus-bagus saja. Ini temuan di lapangan,” kata Whisnu selepas kunjungan.

Diralat Puskesmas

Rasa terkejut Whisnu tidak berhenti di situ. Dari 15 warga yang diisolasi semula dinyatakan negatif, ternyata diralat pihak Puskesmas Kedungdoro setelah kunjungan Whisnu menjadi lima di antaranya positif.

“Iya ini, saya akan melaporkan kepada Bu Wali (Tri Rismaharini alias Risma) kenapa Dinkes (Dinas Kesehatan) bisa kecolongan, memulangkan warganya yang masih berstatus positif,” tandas politikus PDIP tersebut, Rabu (3/6/2020).

Sementara untuk laporan temuan di lapangan soal fasilitas pendampingan tenaga medis, maupun data yang diralat, tandas Whisnu, sudah disampaikan kepada Risma via telepon.

Alumnus ITS Surabaya itu sekaligus meminta izin kepada Risma untuk menjalani isolasi mandiri. ”Iya sekaligus (meminta izin), saya juga akan menyampaikan kepada Bu Wali agar berhati-hati dan menjaga kesehatan,” terangnya.

Insyaallah tidak ada apa-apa. Karantina itu hal biasa, ini risiko ketika turun menguatkan warga di perkampungan, mendengar apa perkembangan maupun kekurangan kami di Pemkot. Mohon doanya,” pinta Whisnu.

Warga Berubah Resah

Dihubungi wartawan secara terpisah, Ketua RT/RW 04/08 Kedung Turi, Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari Surabaya, Malik juga mengaku resah atas kabar diralatnya status warga tersebut.

Terlebih sejak pemulangan belasan warganya, pihak Dinkes Surabaya sudah menyatakan negatif Covid-19.

”Tapi hasil swab test-nya tidak segera diumumkan. Warga ditelepon satu persatu di kamar dikatakan siap-siap untuk pulang. Ternyata seperti ini, kami harus percaya kepada siapa?” ujar Malik.

Sebelumnya, dia bersama seluruh warga kampung sudah terlanjur bahagia mendengar informasi pemulangan warga dengan status negatif Corona tersebut.

”Kalau begini saya selaku RT dibuat bingung dan sedih. Saat ini upaya menenangkan warga tengah dilakukan,” ungkap Malik.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona