Tiga Mahasiswa Unesa Ciptakan Aplikasi Deteksi Kesehatan Anak

APLIKASI CHECK-AP: Mahasiswa Unesa membuat aplikasi "Check-Ap" untuk mendeteksi kesehatan anak. | Foto: IST
APLIKASI CHECK-AP: Mahasiswa Unesa membuat aplikasi “Check-Ap” untuk mendeteksi kesehatan anak. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Menjawab tantangan revolusi industri 4.0, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil menciptakan prototype aplikasi untuk menanggulangi masalah kesehatan pada anak.

Karya tiga mahasiswa, Enggarbela Ogi Intan Pratiwi, Abdul Khamid dan Fitria Hidayanti dengan bimbingan Dosen Teknik Informatika, Salamun Rohman tersebut diberi nama “Check-Ap”.

Aplikasi untuk pemeriksaan cepat terhadap kesehatan anak dengan menggunakan fitur face detector ini dibuat, karena tak sedikit dari mereka yang meninggal hanya karena orang tuanya kurang awas mengenai gejala penyakit yang diderita buah hatinya.

“Mereka ingin memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut dengan memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini,” terang Wakil Dekan Bidang Kemahasiswan Fakultas Teknik Unesa, Dedy Rahman Prehanto di Surabaya, Senin (24/6/2019).

Soal mengapa aplikasi dibuat berbasis mobile, menut Dedy, karena saat ini hampir semua orang telah memiliki smartphone sehingga dapat digunakan dimana dan kapan saja.

Apalagi smartphone terkini telah dilengkapi dengan fitur-fitur canggih yang dapat mendukung pembangunan aplikasi, salah satunya fitur face recognition dan face detector yang dapat mengenali wajah manusia.

Cara kerja aplikasi Check-Ap, tandas Dedy, dapat melakukan pemindaian wajah anak dengan memanfaatkan fitur face recognition. Dengan demikian, penyakit yang diderita anak dapat terdeteksi dengan cara pemindaian wajah, serta menemukan gejala melalui lidah, mata dan suhu tubuh.

Lewat aplikasi ini, diharapkan para orang tua akan lebih mudah dalam mengawasi kesehatan dan melakukan pemeriksaan anak secara dini. Selain itu, dapat mengurangi tingkat kematian anak di bawah umur yang semakin meningkat tiap tahunnya.

Sementara terkait prestasi yang kembali diukir mahasiswanya, Dedy menuturkan di era revolusi industri 4.0 mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi.

“Kecerdasan emosional, spiritual serta karakter berbudi pekerti yang luhur juga menjadi hal yang sangat penting untuk di era yang serba digital dan serba cepat ini,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Unesa, Industri 4.0