Teliti soal Zakat, Pengasuh Pesantren Raih Gelar Doktor

Mohammad Mukhrojin (kanan), pengasuh pesantren yang meraih gelar doktor. | Foto: Ist
Mohammad Mukhrojin (kanan), pengasuh pesantren yang meraih gelar doktor. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Orang pesantren juga bisa berprestasi tinggi di jalur akademik. Ini buktinya: Mohammad Mukhrojin, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Bismar Al Mustaqim, Surabaya meraih gelar doktor di usia 31 tahun.

Mukhrojin meraih gelar akademik tertinggi tersebut, setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji dalam sidang terbuka program Doktor Ilmu Administrasi Publik Pasca Sarjana Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag) dan lulus dengan IPK 3,90, Jumat (3/5/2019) lalu.

Alhamdulillah, keberhasilan ini berkat dukungan keluarga dan doa anak-anak yatim yang menjadi santri saya. Insyaallah, gelar doktor ini akan menambah semangat pengabdian saya kepada masyarakat,” tutur Mukhrojin, Minggu (5/5/2019).

Dalam disertasinya, alumnus Ponpes An Nur Sidoresmo, Surabaya, itu mengangkat judul Implementasi Kebijakan Pengelolaan Zakat dalam Meningkatkan Peran dan Fungsi Kelembagaan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di Jatim.

Mukhrojin menjelaskan pentingnya pengembangan model fungsi pengelolaan dan pengawasan yang terintegrasi, terhadap keseluruhan kegiatan zakat oleh Baznas.

Selain itu, untuk mengoptimalisasikan pendistribusian zakat diperlukan model distribusi perputaran dana yang bersifat produktif, sehingga mustahiq (penerima zakat) bisa beralih menjadi muzakki (pemberi zakat).

“Zakat kalau dikelola secara profesional dan amanah bisa untuk membiayai pembangunan, bahkan bisa untuk membiayai penelitian ilmiah,” katanya.

“Sehingga pemuda-pemuda cerdas Indonesia tidak lagi dibajak oleh negara lain. Mereka bisa mengamalkan ilmu dan pengabdian untuk bangsanya,” urai anggota bhatsul masail PCNU Kota Surabaya itu.

Keluarga Petani

Dalam kesempatan tersebut, Mukhrojin juga menuturkan suka dukanya menjalani pendidikan hingga meraih gelar doktor dalam waktu tiga tahun.

Sebelumnya, dia tak pernah membayangkan gelar tersebut. Terlebih merasa berasal dari keluarga petani dari pelosok desa ujung timur Kabupaten Banyuwangi.

“Gelar doktor ini berkah buat saya. Jangankan berharap, mimpi saja tidak pernah, karena saya sadar hanya anak petani. Alhamdulillah saya diberi jalan dan kemudahan,” tandasnya.•

» Baca Berita Terkait Kampus