Gus Hans: Ijtima Ulama 3 Tak Bermakna, Tak Usah Ditanggapi!

Gus Hans (kanan), ijtima ulama jilid III tak bermakna, tak perlu didengar. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Gus Hans (kanan), ijtima ulama jilid III tak bermakna, tak perlu didengar. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sekjen Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN), KH Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans meminta masyarakat tak perlu mendengarkan ijtima ulama 3 yang menuntut agar KPU dan Bawaslu mendiskualifikasi Paslon 01, Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Menurut saya, ijtima ulama 3 ini tidak bermakna. Jadi kita enggak perlu repot-repot untuk menanggapi mereka, toh masyarakat kita sudah cerdas,” katanya di Surabaya, Sabtu (4/5/2019).

Justru kubu Paslon 01, kata kiai muda pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang itu, harus ‘berterima kasih’ dengan langkah-langkah mereka selama ini yang terlalu mendeskreditkan Nahdlatul Ulama (NU) dan para kiai NU.

Sebab, hal itu malah membuat militansi masyarakat NU yang semula agak malas datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) menjadi lebih semangat untuk menggunakan hak pilihnya.

“Kesimpulannya, saya ucapkan terima kasih kepada Pak Amien Rais dan juga tim ijtima ulama yang telah ‘memenangkan’ Paslon 01, karena terlalu menyudutkan NU,” sidir penggagas Football for Peace itu.

Gus Hans juga meminta kelompok ijtima ulama agar tidak terus-terusan melakukan manuver politik, karena akan semakin menampakkan siapa sejatinya mereka.

Dia mencontohkan penggunaan istilah jihad yang seharusnya disertai dengan rasa tawakkal terhadap hasil. Proses jihad, katanya, haruslah diniati dengan baik dan akhirnya diniatkan rasa tawakal kepada Allah Swt.

“Itu kalau jihadnya baik. Kalau misalnya dalam proses dan akhirnya dia tidak bisa menerima keputusan, maka perlu dipertanyakan tentang apa maksud jihad tersebut,” ucapnya.

Tak Perlu Didengar

Sementara terkait tudingan Habib Rizieq yang menyebut Luhut Binsar Panjaitan dan Hendropriyono sebagai aktor kecurangan untuk kemenangan Jokowi-Ma’ruf, Gus Hans kembali meminta tak perlu didengarkan.

“Selama Pak Habib ini belum bisa mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan sehingga dia tak berani pulang ke Indonesia, saya kira belum perlu mendengarkan apa yang disampaikan Pak Habib ini,” paparnya.

“Jadi menurut saya (tudingan Rizieq) tidak signifikan, dan masyarakat semakin tahu jangan-jangan dia (berupaya) memenangkan ini hanya ingin pulang untuk menghindari permasalahan hukum,” tuntasnya.•

» Baca Berita Terkait Gus Hans, Pilpres 2019