Survei Dibilang Sensus, Khofifah: The Initiative Institute Keren!

SURVEI KEREN: CEO The Initiative Institute, Airlangga Pribadi saat memaparkan hasil surveinya terkait Pilpres 2019. | Foto: Barometerjatim.com/NATHA LINTANG
SURVEI KEREN: CEO The Initiative Institute, Airlangga Pribadi saat memaparkan hasil surveinya terkait Pilpres 2019. | Foto: Barometerjatim.com/NATHA LINTANG

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kubu Prabowo-Sandiaga ‘gerah’ dengan hasil survei The Initiative Institute. Sebaliknya, kubu Jokowi-Ma’ruf Amin justru melontarkan pujian untuk lembaga yang didirikan Airlangga Pribadi tersebut.

Seperti diberitakan Barometerjatim.com, Selasa (18/12), kubu Prabowo lewat Ketua Harian Badan Pemenangan Provinsi (BPP) wilayah Jatim, Anwar Sadad mengritik hasil survei The Initiative Institute dengan sebutan sensus, bukan survei.

Dasar kritik Sadad yakni jumlah responden yang diambil kelewat gemuk, 5.500. “Nasional saja 1.200 responden,” katanya, sembari menambahkan kalau jumlah responden kelewat gemuk menunjukkan lembaga tersebut sedang belajar survei!

• Baca: Kalah di Survei, Kubu Prabowo: Itu Sensus, Bukan Survei!

Tapi pendukung Jokowi-Ma’ruf yang juga Ketua Dewan Pengarah Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Khofifah Indar Parawansa, malah melontarkan pujian dan apresiasi yang tinggi untuk The Initiative Institute.

“The Initiative Institute, menurut saya, survei kali ini respondennya keren sekali! Kalau 5.500 responden, sangat jarang ada servei yang melakukan detail responden seperti ini, kecuali melakukan zooming,” katanya.

Dengan 5.500 responden, menurut perempuan yang juga gubernur Jatim terpilih itu, tingkat kepercayaannya menjadi sangat tinggi, 95 persen. Margin of error-nya menjadi sangat kecil, 1,32 persen.

• Baca: Survei: Jokowi Unggul 57,7%, Rumus Khofifah: Tembus 78,8%

“Pada posisi ini, (hasil survei) ini akan menjadi GPS (Global Positioning System) bagi calon atau partai pengusung yang berharap akan menjadi coattail effect (efek ekor jas) dari siapa kandidat yang didukungnya,” katanya.

“Salah satu GPS-nya adalah hasil survei ini. Dengan responden sangat besar, margin of error sangat rendah dan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi, maka validitas hasil survei ini menjadi sangat tinggi.”

Blue Sky Thinking

SURVEI DETAIL: (Dari kiri) Airlangga Pribadi, Khofifah Indar Parawansa, Misbakhun (Golkar) dan peneliti The Initiative Institute, Hari Fitrianto usai rilis survei. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
SURVEI DETAIL: (Dari kiri) Airlangga Pribadi, Khofifah Indar Parawansa, Misbakhun (Golkar) dan peneliti The Initiative Institute, Hari Fitrianto usai rilis survei. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Mengapa GPS menjadi penting bagi Khofifah? Perempuan yang juga Ketum Muslimat NU itu lantas mencontohkan dirinya yang seringkali menggunakan format blue sky thinking dalam kehidupan.

“Supaya kita tidak cepat frustrasi melihat tantangan, melihat petir, mendung, kadang hujan deras disertai angin topan,” kata Khofifah yang dikenal santun dan indah dalam berkata-kata.

• Baca: Tim Jokowi Disarankan ‘Jualan’ Nama Besar Kakek Kiai Ma’ruf

“Tapi ada harapan akan ada hari yang cerah, matahari bersahabat, tidak terlalu panas, juga tidak mendung,” sambung gubernur perempuan kedua — setelah mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah — di Indonesia tersebut.

Nah, lanjut Khofifah, blue sky thinking harus tetap dipandu GPS supaya tidak imajiner. “Kalau Pilpres, Pilgub, Pileg, pokoknya pil-pilan ini, GPS bagi saya adalah hasil survei. Supaya kita enggak berpikir imajiner,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Khofifah, Pilpres 2019, Anwar Sadad