Tim Jokowi Disarankan ‘Jualan’ Nama Besar Kakek Kiai Ma’ruf

RILIS HASIL SURVEI: Khofifah dan CEO The Initiative Institute, Airlangga Pribadi saat rilis hasil survei terkait Pilpres 2019. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
RILIS HASIL SURVEI: Khofifah dan CEO The Initiative Institute, Airlangga Pribadi saat rilis hasil survei terkait Pilpres 2019. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sejak dipilih Joko Widodo (Jokowi) menjadi Cawapres pendampingnya, 9 Agustus 2018, hingga kini KH Ma’ruf Amin belum signifikan menyumbang elektabilitas. Termasuk di Jatim yang merupakan basis warga Nahdlatul Ulama (NU).

Alih-alih elektabilitas, soal liketablitas saja dari hasil survei The Initiative Institute yang dirilis di Surabaya, Senin (17/12), faktor Jokowi ternyata lebih menjadi daya tarik ketimbang mantan rais aam PBNU dan Ketum MUI non aktif tersebut.

Dari 5.500 responden yang disurvei The Initiative Institute, periode 10-18 Oktober 2018, hanya 8,6 persen yang menyukai Kiai Ma’ruf. Sedangkan Jokowi dipilih 53,5 persen, ragu-ragu 25,9 persen, dan memilih keduanya 12,0 persen.

• Baca: Survei: Jokowi Unggul 57,7%, Rumus Khofifah: Tembus 78,8%

Mengapa Kiai Ma’ruf yang menyandang status kiai besar di negeri ini justru tak signifikan mendongkrak elektabilitas pasangan nomor urut satu?

Menurut pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin yang juga Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa, ada potensi besar yang belum digarap tim yakni memaksimalkan ta’limul muta’allim sebagai dasar filosofis tawadhu’ kepada mahaguru.

Bahwa, kakek Kiai Ma’ruf adalah Syekh Muhammad Nawawi Al Jawi Al Bantani atau Syekh Nawawi Al Bantani. Seorang ulama Indonesia bertaraf internasional yang menjadi imam Masjidil Haram dan lama bermukim di Madinah, serta memiliki murid cukup banyak yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.

• Baca: Kalah di Survei, Kubu Prabowo: Itu Sensus, Bukan Survei!

“Ini kalau ada yang membangun komunikasi secara intensif, rasanya akan ada kapitalisasi dari kemungkinan memanggil memori mereka yang sempat berguru kepada kakek Kiai Ma’ruf,” kata Khofifah.

Menurut perempuan yang juga Ketum PP Muslimat NU itu, banyak sekali yang tidak masuk struktural NU tidak tahu kalau Syekh Nawawi adalah kakek Kiai Ma’ruf. Bahkan saat pertemuan International Islamic Scholars di Jakarta beberapa waktu, sampai harus diinformasikan secara khusus.

“Pada posisi seperti inilah, rasanya ada di dalam ta’limul muta’allim bagaimana sesungguhnya seorang santri langsung maupun tidak langsung, biasanya akan terbangun satu ketawadhu’an dari dzuriyyah sang guru besar, sang syekh,” paparnya.

Garap Potential Voters

LIKETABILITAS KIAI MA'RUF RENDAH: Liketabilitas Kiai Ma'ruf jomplang dibanding Jokowi. Tim paslon nomor satu disarankan 'jualan' kakek Kiai Ma'ruf. | Grafis: The Initiative Institute
LIKETABILITAS KIAI MA’RUF RENDAH: Liketabilitas Kiai Ma’ruf jomplang dibanding Jokowi. Tim paslon nomor satu disarankan ‘jualan’ kakek Kiai Ma’ruf. | Grafis: The Initiative Institute

Mantan Menteri Sosial itu pun menyarankan, agar dalam waktu tidak terlalu lama ada tim yang secara efektif mengomunikasikan ta’limul muta’allim tersebut sebagai dasar dukungan dari para murid Syekh Nawawi kepada Jokowi-Kiai Ma’ruf.

“Misalnya temu alumni yang dulu pernah menjadi santri atau santri-santrinya Kiai Nawawi. Karena ini kan sudah berperiode-priode untuk mengomunikaiskan, bagaimana sesungguhnya cucu dari seorang Syekh Nawawi ini sekarang berproses di Pilpres,” katanya.

“Memanggil memori itu menjadi penting,” tegas Khofifah yang juga Dewan Pengarah Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) — kelompok relawan Jokowi-Ma’ruf yang lebih banyak terkonsentrasi menggarap basis massa ‘hijau’.

• Baca: Bingung Pilih Capres? Khofifah: Simak Lagi Syi’ir Tombo Ati

Bagi Khofifah, memanggil memori mereka yang pernah berguru langsung maupun tidak langsung kepada Syekh Nawawi menjadi penting untuk menggarap potential voter menjadi real voters.

“Saya rasa ini ada potential voters yang belum terdeteksi. Mungkin kategori masih ragu maupun swing voters. Jadi saya melihat ada potential voters yang kalau ada proses secara efektif bisa dilakukan, maka ini akan menjadi real voters,” pungkasnya.

» Baca Berita Terkait: Khofifah, Pilpres 2019