Soekarwo Akui di Jatim Masih Terdapat Kelompok Radikal

PUJI KINERJA KEPOLISIAN: Gubernur Soekarwo memuji kinerja dan gerak cepat aparat kepolisian dalam mengantisipasi gerakan radikal. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Selama dua hari, Jumat (7/4) dan Sabtu (8/4), dua wilayah di Jawa Timur dihebohkan aksi penangkapan terduga teroris oleh Tim Datasemen Khusus (Densus) Antiteror 88 Mabes Polri.

Pertama, penangkapan tiga terduga teroris di Kabupaten Lamongan dan sehari kemudian di Kabupaten Tuban. Bahkan di Tuban, terjadi baku tembak antara terduga teroris dengan polisi yang dibantu TNI.

Terkait dua kejadian selama dua hari berturut-turut itu, Gubernur Jatim Soekarwo angkat bicara, memberikan pandangannya terkait aksi-aksi radikalisme yang mengatasnamakan agama.

“Saya umum saja, ini masalah security dan intelijen. Itu kan tidak bisa dibuka semuanya. Prinsip dasarnya, saya memberi apresiasi kinerja Pak Kapolda (Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin) plus Densus-nya,” terang Soekarwo, Senin (10/4).

“Saya umum saja, ini masalah security dan intelijen. Itu kan tidak bisa dibuka semuanya. Prinsip dasarnya, saya memberi apresiasi kinerja Pak Kapolda plus Densus-nya.”

Menurut pejabat yang akrab disapa Soekarwo itu, kinerja atau gerak cepat aparat kepolisian mengantisipasi gerakan-gerakan radikal sangat luar biasa.

Soekarwo juga mengakui di Jawa Timur terdapat kelompok-kelompok radikal, namun tidak semua diinformasikan ke publik. “Tapi sebagian, menurut sementara ini, memang beberapa kelompok itu (radikal) di Jawa Timur ada. Pertemuan Malang itulah salah satunya,” ungkapnya.

Pertemuan di Malang yang dimaksud Soekarwo yakni rapat koordinasi pihak kepolisian terkait beberapa aksi radikal. Rapat digelar pada 2015.

“Radikalisme itu tidak gampang, karena problemnya kan problem internasional. Problem yang sebetulnya, itu kan didesain Amerika dalam rangka itu, setelah tidak, justru menjadi musuh. Ini kan masalah war (perang) di dalam energi.”

• Baca: Tanpa Perlawanan, Terduga Teroris Diringkus di Lamongan

“Penguasaan terhadap lahan-lahan energi, kemudian yang dipertarungkan kelompok-kelompok antaragama itu sendiri, di dalam agama bukan antaragama, tapi di dalam satu agama, antaritu sendiri, kelompok-kelompok dalam agama itu sendiri,” sambungnya.

Pandangan Soekarwo ini merujuk pada program Global War on Terror yang didengungkan Amerika Serikat pasca peristiwa 11 September 2001. Sejak saat itu, kekerasan yang mengatasnamakan agama kerap dikaitkan dengan aksi radikalisme dan terorisme.

“Kalau pemikiran kan ndak bisa, kalau pemikiran sampeyan (anda) simpati ke a, b, c, ndak bisa. Yang bisa dilakukan kan langkah. Lah pemikiran itulah kemudian, tidak pernah sukses di dalam proses kekerasan. Di dunia ini tidak pernah ada perjuangan dalam kekerasan itu sukses,” pungkasnya.