Jumat, 02 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Setelah Sasimulya dan Robiatul, Siapa Berikutnya?

Berita Terkait

MUSLIMAT NU ‘ABAL-ABAL’: Kelompok perempuan yang mengaku pengurus Muslimat NU Surabaya (kiri) dan Forum Peduli Muslimat Jawa Timur (FPMJT) | Foto: Barometerjatim.com/ENEF MADURY/IST
MUSLIMAT NU ‘ABAL-ABAL’: Kelompok perempuan yang mengaku pengurus Muslimat NU Surabaya (kiri) dan Forum Peduli Muslimat Jawa Timur (FPMJT) | Foto: Barometerjatim.com/ENEF MADURY/IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pilgub Jatim 2018 belum dimulai. Namun ‘jurus mabuk’ mulai dilakukan kandidat yang ingin menjadi gubernur tanpa kompetisi. Pola yang dilakukan pun aroma lama dengan sasaran yang sama: Khofifah Indar Parawansa.

Sadar basis massa riil Khofifah di Muslimat NU, jamiyah dengan jamaah sekitar 7 juta di Jatim itupun dikesankan, seolah-olah, tak mendukung Khofifah mencalonkan diri sebagai gubernur di Pilgub Jatim 2018.

Caranya? ‘Mendandani’ sejumlah ibu-ibu dengan seragam Muslimat NU, lalu membuat pernyataan sikap agar Khofifah tak maju dengan bumbu eufemisme: Sebaiknya tetap menjadi menteri dan didukung maju sebagai Cawapres di 2019.

• Baca: Muslimat NU Surabaya: Baju Hijau Banyak Dijual di Pasar

Saking gencarnya mengharapkan Khofifah tak maju, dalam tempo 12 hari sudah dua kelompok ibu-ibu mengatasnamakan Muslimat NU. Pertama, Senin (14/8), seorang ibu bernama Sasimulya mengaku sebagai Ketua PC Muslimat NU Surabaya, padahal ketua yang asli yakni Nyai Hj Lilik Fadhilah.

Kedua, Sabtu (26/8), Robiatul Adawiyah mengaku sebagai wakil ketua PC Muslimat NU Bangkalan. Padahal di struktur kepengurusan tak ada istilah wakil ketua.

Belakangan ketahuan, kalau Robiatul ternyata istri dari KH Fahrur Rozi (Gus Fahrur), ketua Forum Komunikasi Kiai Kampung Jawa Timur (FK3JT), pendukung Saifullah Yusuf.

• Baca: Dukung Gus Ipul, Muslimat NU ‘Abal-abal’ Gentayangan

Ini yang membuat Ketua PW Muslimat NU Jatim, Nyai Hj Masruroh Wahid bersikap tegas, “Mereka melarang Bu Khofifah itu juga nggak bisa. Beliau punya hak pribadi sebagai warga negara untuk mengambil peran pembangunan apapun di negara ini. Kenapa mereka mesti melarang-larang,” katanya.

Selain itu PW Muslimat NU secara resmi belum mengeluarkan pernyataan apapun, karena Khofifah juga belum declare. “Kalau sekarang ada yang mendahului (bersikap), itu hanya pressure yang nggak jelas,” tandasnya.

Sebelumnya, Lilik Fadhilah juga hanya tertawa saat ada yang mengklaim sebagai ketua PC Muslimat NU Surabaya. “Kalau sekadar batik hijau, banyak sekarang. Di pasar itu lho banyak dijual batik hijau seperti seragam Muslimat NU,” tandasnya.

• Baca: Ini Bukti Robiatul Bukan Wakil Ketua Muslimat NU Bangkalan

Karena itu, dia akan mengusulkan dan meminta ke PP Muslimat NU agar baju Muslimat NU dipatenkan biar tidak disalahgunakan pihak-pihak tertentu, terutama yang punya ‘syahwat Pilkada’ yang kelewat besar.

Bahkan secara tegas, keduanya satu suara, kalau Khofifah maju logikanya tidak mungkin mendukung calon lain. “Secara etika jamiyah, masak kalau ibunya sendiri maju, PW dan PC nggak mendukung,” katanya.

Yok opo.. Wong mbok-mobok e dewe yo kudu didukung ambek anak-anake iki lek maju (Bagaimana lagi, kalau ketua umumnya sendiri ya harus didukung para anggotanya),” timpal Lilik.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -