Saat Patroli PSBB Jaring OTG, ODP dan PDP, Terus Diapakan?

HASIL RAZIA: Salah seorang remaja yang terjaring patroli PSBB dibawa ke Polrestabes. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
HASIL RAZIA: Salah seorang remaja yang terjaring patroli PSBB dibawa ke Polrestabes. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Patroli gabungan gencar dilakukan selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya — Kota Surabaya, sebagian Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik.

Lantas, bagaimana algoritma panduan penanganan patroli PSBB di Surabaya Raya saat petugas menemukan Orang Tanpa Gejala (OTG), Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19?

Menurut Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi, saat ditemukan OTG, ODP dan PDP prinsipnya diperiksa fisik dan di-rapid test.

“Karena alat kita yang paling bisa dipakai portabel baru rapid test. Kalau kita sudah punya tes PCR (Polymerase Chain Reaction) yang portabel tentu dilakukan PCR,” katanya di Gedung Negara Grahadi, Surabaya Minggu (3/5/2020) malam.

Jadi, tandas Joni, saat ditemukan OTG, ODP atau PDP yang ringan waktu patroli PSBB, maka semuanya dilakukan isolasi, baik di rumah maupun di ruang observasi.

“Tentu ini menjadi pertimbangan kalau rumahnya memenuhi syarat. Kalau tidak, Pemprov menyediakan rumah observasi. Kalau harus masuk rumah sakit, ya akan dibawa ke rumah sakit,” katanya.

Reaktif Dilanjut PCR

LANGKAH PENANGANAN: Algoritma panduan penanganan patroli PSBB di Surabaya Raya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
LANGKAH PENANGANAN: Algoritma panduan penanganan patroli PSBB di Surabaya Raya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Menurut Joni, ada dua rumah sakit untuk penanganan, yakni darurat dan rujukan. Di Jatim, rumah sakit rujukan untuk pasien berat ditetapkan di RSUD dr Soetomo Surabaya dan RSUD dr Saiful Anwar Malang.

“Makanya Soetomo kami desain untuk yang berat-berat. Mungkin nanti kalau rumah sakit Airlangga ini alat-alatnya sudah datang, alat-alatnya sudah mencukupi, juga akan menjadi rujukan untuk kasus-kasus yang berat,” katanya.

Bagaimana dengan hasil rapid test yang reaktif? Menurut Joni akan dilanjut dengan tes PCR, dan untuk menentukan positif atau tidak akan dilakukan dua kali PCR.

“Kalau rapid test negatif (nonreaktif), maka jangan senang-senang dulu. yang kemarin itu (171 orang yang terkena rezia) ada hasil tesnya negatif, ya kita isolasi karena termasuk OTG. Dievaluasi klinisnya dan rapid test ulang, kalau negatif ya pulang, kalau positif dilanjutkan dengan PCR,” ujarnya.

Sebelunya, 171 remaja terjaring patroli gabungan di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. Mereka kemudian diangkut ke Mapolrestabes Surabaya untuk dilakukan rapid test. Hasilnya, enam orang reaktif — lima hasil razia di Surabaya, satu di Gresik.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona