Recovery Ekonomi, Ekonom Unair: Sahkan RUU Cipta Kerja!

HIDUPKAN LAGI EKONOMI: Banyak pekerja di pabrik yang di PHK dan dirumahkan akibat Corona. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
HIDUPKAN LAGI EKONOMI: Banyak pekerja di pabrik yang di PHK dan dirumahkan akibat Corona. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ekonom dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Wasiaturrahma menilai pemulihan ekonomi pasca Corona (Covid-19) merupakan momentum yang tepat bagi pemerintah dan DPR untuk mengesahkan RUU Cipta Kerja.

“RUU tersebut menurut saya sangat penting, dan DPR harus segera mengetuk palu disahkannya UU Cipta Karya itu,” katanya kepada wartawan di Surabaya, Rabu (10/6/2020).

Menurut ekonom yang akrab disapa Rahma itu, RUU Cipta Kerja yang bertujuan mempermudah, mempercepat, dan menghilangkan kerumitan melakukan investasi tepat diterapkan untuk mengantisipasi dampak ekonomi Indonesia akibat pandemi.

“Kita ketahui banyaknya aturan dan regulasi tumpang tindih selama ini, yang membuat kecepatan realisasi investasi dan bisnis kita terhambat baik di pusat maupun daerah,” ujarnya.

Hal itu, tandas Rahma, seharusnya tidak lagi terjadi karena ekonomi kita sudah ambruk akibat pandemi. Lagi pula Indonesia negara yang cukup luas, termasuk juga pertumbuhan penduduknya sangat tinggi.

“Hemat saya, ini momentum yang cukup baik bila RUU segera disahkan, maka investor asing akan banyak masuk ke seluruh wilayah di Indonesia,” katanya.

“Apalagi sekarang modal asing sudah meninggalkan India dan pindah ke RI, yang didukung juga menguatnya nilai tukar kita, rupiah,” imbuhnya.

Bagi Rahma, tidak ada jalan lain untuk bisa memperluas kesempatan kerja kecuali investasi. Sedangkan kemudahan investasi di setiap negara menjadi perhatian utama investor.

Kuncinya Perbanyak Investasi

Terlebih, dalam catatan Rahma, selama kurang lebih tiga bulan, sejak pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, perekonomian masyarakat terdampak parah. Hingga minggu terakhir Mei2020, kegiatan ekonomi dan penjualan barang di semua sektor menurun dengan laju bebeda-beda.

Sektor yang tertekan semakin parah tertinggi terjadi pada pembiayaan konsumen, yakni otomotif (-53 persen) dan alat transportasi (-51 persen). Lalu sektor yang tertekan signifikan yakni restoran dan pariwisata, sedangkan sektor yang stagnan yakni rokok dan tembakau.

Di sektor pekerja, tercatat 1,7 juta orang dirumahkan, 749,4 ribu pekerja formal di-PHK, 282 ribu pekerja informal terganggu usahanya, dan 100 ribu pekerja migran dipulangkan.

“Untuk dapat membuat ekonomi segera bangkit, ya kita harus banyak-banyak mengundang investor masuk ke Indonesia,” ucapnya.

“Kuncinya investasi, supaya bisnis tumbuh. Bisnis tumbuh, otomatis membutuhkan banyak tenaga kerja, dan ada peluang lagi bagi masyarakat yang sudah tidak punya pekerjaan bisa bekerja lagi.”

Bila masyarakat bekerja normal kembali, kata Rahma, maka akan ada demand of consumption yang nantinya akan berpengaruh pada peningkatan output serta mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi tinggi.

Outlook ekonomi kita tahun ini cukup menjanjikan dengan paket-paket stimulus pemerintah untuk menyelamatkan ekonomi dari pandemi ini, apalagi nanti segera disahkan RUU Cipta Kerja,” ujarnya.

“Saya yakin pertumbuhan ekonomi kita masih bisa diharapkan mencapai angka 3 persen, apalagi kita sudah menjalani new normal,” tuntas Rahma.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona