Positif Corona Tertinggi di Jatim, Gus Hans: Surabaya Layak PSBB

WABAH CORONA: Gus Hans dan peta sebaran Corona di Jatim. Surabaya layak terapkan PSBB. | Sumber Grafis: Pemprov Jatim
WABAH CORONA: Gus Hans dan peta sebaran Corona di Jatim. Surabaya layak terapkan PSBB. | Sumber Grafis: Pemprov Jatim

SURABAYA, Barometerjatim.com – Makin meluas saja zona merah virus Corona (Covid-19) di Jatim. Dari 38 kabupaten/kota, tinggal enam yang belum masuk wilayah terjangkit — dua di antaranya masih zona hijau alias baru ada Orang Dalam Pemantauan (PDP) yakni Sampang dan Sumenep.

Meski jumlah zona merah terus bertambah, hingga kini belum ada satu pun kabupaten/kota di Jatim yang mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus penyebaran Covid-19.

Namun melihat jumlah pasien positif yang ada dan terus bertambah dari hari ke hari, Surabaya yang dipimpin Wali Kota Tri Rismaharini alias Risma dinilai layak menerapkan PSBB.

“Saya melihat di Jatim yang mungkin sudah layak adalah Surabaya saja, asalkan penerapan PSBB sesuai dengan aturan yang ada,” kata Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jatim, Zahrul Azhar Asumta, Sabtu (11/4/2020).

Merujuk data Pemprov Jatim, hingga kini jumlah pasien positif Covid-19 di Surabaya mencapai 97 orang. Sedangkan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) tercatat 497 orang, dan 1.255 Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Bagaimana dengan anggaran? Melihat kekuatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020 sebesar Rp 10,3 triliun, ‘kiai milenial’ yang akrab Gus Hans itu menyebut memungkinkan.

“Memungkinkan. Kalo PSBB lho ya, memungkinkan. Toh konsekuensinya enggak seberat seperti lockdown kan,” tandasnya.

Begitu pula soal koneksitas antardaerah, menurut Gus Hans tidak masalah, karena PSBB tidak sampai mengunci wilayah tapi lebih ke arah pengetatan akses keluar masuk.

“Enggak sampai mengunci, itu kan sekarang ini yang dikesankan seperti itu soal PSBB, padahal tidak. Ada aturan, misalnya kendaraan yang boleh dan tidak boleh masuk,” kata Gus Hans.

“Jadi PSBB sah-sah saja, toh ini intinya untuk mengurangi gerak masyarakat agar tidak kemana-mana. Terutama Surabaya yang zona merah dengan jumlah pasien positif terbanyak,” sambungnya.

Kendati menilai Surabaya layak PSBB, Gus Hans tetap menekankan penerapannya pada koordinasi antara pimpinan di Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim.

“Koordinasi itu sangat penting, karena nanti akan menentukan eksekusi di lapangan. Soal data saja, kalau misalnya tidak ada komunikasi yang baik, bisa jadi tidak sinkron,” ucapnya.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona