Pilwali Surabaya, Kerja Calon Perempuan Jauh Lebih Keras!

PILWALI SURABAYA: Andy Agung Prihatna, calon perempuan akan bekerja lebih keras secara elektoral. | Foto: Barometerjatim.com/ROY
PILWALI SURABAYA: Andy Agung Prihatna, calon perempuan akan bekerja lebih keras secara elektoral. | Foto: Barometerjatim.com/ROY

SURABAYA, Barometerjatim.com – Direktur Index Indonesia, Andy Agung Prihatna menyebut jika akhirnya ada calon perempuan yang bertarung di Pilwali Surabaya 2020, maka dipastikan akan bekerja jauh lebih keras dibanding laki-laki.

Mengapa demikian? Sebab, dari sekitar 40-an survei yang dilakukan lembaganya dalam rentang 2019 hingga sekarang, Agung menyimpulkan tidak ada korelasi pilihan politik menurut gender.

“Artinya, belum ada perilaku khusus dari perempuan untuk memilih perempuan, karena memang tidak ada korelasi pilihan laki-laki dan perempuan,” katanya dalam diskusi panel online bertajuk Pasca Risma, Surabaya Masih Butuh Sentuhan Perempuan? yang digelar Barometer Jatim Insight, Minggu (9/8/2020).

Menurut Agung, problemnya memang sangat mendasar karena di sebagian keluarga, laki-laki yang mengambil keputusan untuk urusan publik. Sedangkan domain perempuan urusan domestik.

“Keputusan memilih calon kepala daerah, umumnya masih didominasi laki-laki dan ini tantangan,” ujar kepala Divisi Penelitian LP3ES 2005-2007 tersebut.

Selain itu, secara elektoral, calon perempuan juga kurang menarik di mata publik. “Maka yang akan jadi calon, harus bekerja keras untuk mendapatkan suara lebih bnyak,” paparnya.

TANTANGAN CALON PEREMPUAN: Tak ada korelasi perempuan harus memilih calon dari perempuan. | Foto: Index Indonesia
TANTANGAN CALON PEREMPUAN: Tak ada korelasi perempuan harus memilih calon dari perempuan. | Foto: Index Indonesia

Meski demikian, secara empirik, perempuan tetap dibutuhkan untuk kepedulian terhadap public services.

Karena itu, dalam kontes Pilwali Surabaya, Agung tetap menyarankan agar Machfud Arifin maupun PDIP tetap memilih calon dari perempuan dengan memenuhi kombinasi nasionalis-agamis.

“PDIP bisa saja mencalonkan perempuan sebagai wali kota, tapi kalau tidak mencalonkan wali kota pengganti Bu Risma, setidaknya perlulah perempuan yang menjadi wakil wali kotanya,”ujar Agung.

“Demikian sebaliknya di kubu Pak Machfud. Kalau belum menentukan, sebaiknya perempuan yang menjadi wakil wali kotanya,” sambungnya.

Meskipun, lanjut Agung, perempuan mungkin tidak menarik secara elektoral, tetap dibutuhkan. Mengingat dari aspek empirik, perempuan memiliki tingkat kepedulian terhadap kepentingan publik dibanding laki-laki.

CAWAWALI PEREMPUAN: Calon wali kota di Pilwali Surabaya disarankan gandeng calon perempuan. | Foto: Index Indonesia
CAWAWALI PEREMPUAN: Calon wali kota di Pilwali Surabaya disarankan gandeng calon perempuan. | Foto: Index Indonesia

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya