Peneliti: Tak Ada Perempuan di Pilwali Surabaya Ingkari Histori!

PILWALI SURABAYA: Andy Agung Prihatna, kalau yang bertanding hanya laki-laki itu ingkari histori. | Foto: Barometerjatim.com/ANDRIANSYAH
PILWALI SURABAYA: Andy Agung Prihatna, kalau yang bertanding hanya laki-laki itu ingkari histori. | Foto: Barometerjatim.com/ANDRIANSYAH

SURABAYA, Barometerjatim.com – Munculnya dua poros besar bakal calon wali kota (Cawali) Surabaya tanpa kandidat perempuan, menjadi sorotan dalam diskusi panel online bertajuk “Pasca Risma, Surabaya Masih Butuh Sentuhan Perempuan?” yang digelar Barometer Jatim Insight, Minggu (9/8/2020).

Maklum, selama satu dekade, 2010-2020, Surabaya mengalami kemajuan luar biasa dengan berbagai penghargaan — baik nasional maupun internasional — berkat kepemimpinan wali kota perempuan, Tri Rismaharini alias Risma.

Tapi yang muncul saat ini, slot Cawali semuanya diisi laki-laki. Yakni Machfud Arifin dengan koalisi besar Parpol, PDIP yang masih menyimpan jagoannya tapi disebut-sebut rekomendasi bakal diturunkan ke Whisnu Sakti Buana, serta pasangan independen M Yasin-Gunawan.

“Kalau kemudian yang bertanding di Surabaya hanya laki-laki, itu alamat menafikan (mengingkari) histori secara empirik kepemimpinan perempuan selama satu dekade yang menunjukkan kemajuan luar biasa,” kata Direktur Index Indonesia, Andy Agung Prihatna.

“Sangat disayangkan kalau tidak ada satu pun di antara para kandidat yang perempuan. Terlalu ekstrem dari kepemimpinan perempuan langsung semua ke laki-laki,” sambung peneliti yang turut memerakarsai metode quick count di Indonesia itu.

Terlebih masyarakat Surabaya sudah terbiasa dengan kepemimpinan perempuan lewat Risma yang melayani, mengayomi, dan melindungi warganya. Bahkan tak hanya Surabaya, masyarakat Jatim juga bisa menerima kepemimpinan perempuan.

Merujuk data yang dibeber Agung, tercatat 79 perempuan sebagai pemimpin pemerintahan di Indonesia. Rinciannya, gubernur (1), wakil gubernur (2), bupati/wali kota (43), dan wakil bupati/wakil wali kota (32).

Dari jumlah ini, Jatim menjadi menyumbang perempuan pemimpin pemerintahan terbanyak, 13 orang. Rinciannya gubernur (1), bupati/wali kota (8), wakil bupati/wakil wali kota (4).

“Nomor satu se-Indonesia. Ini artinya apa? Masyarakat Jatim, tak terkecuali Surabaya, ya menerima perempuan sebagai pemimpin,” kata Agung.

Agung juga pernah melakukan studi kualitatif di Jatim pada 2017 untuk men-tracing seberapa bisa publik menerima perempuan sebagai pemimpin.

Studi tersebut, mewawancarai lebih dari 100 tokoh, sebagian besar tokoh agama. Hasilnya, tidak ada keberatan yang berarti dari tokoh agama terhadap kepemimpinan perempuan.

“Yang pada awalnya kami menduga, bakal ada barrier yang tinggi terhadap keberadaan pemimpin perempuan,” kata Agung yang turut membidani kelahiran LSI pada 2003.

Ini terbukti, lanjut Agung, dan secara empirik pada 2018 Khofifah Indar Parawansa terpilih menjadi gubernur Jatim, serta saat ini ada 8 bupati/wali kota dan 4 wakil bupati/wakil wali kota.

“Satu cerminan dimana warga Jatim menerima kepemimpinan perempuan dan menjadi contoh bagi daerah lain. Sebab Jatim yang terbanyak, dan di posisi kedua Jateng ada 11 perempuan yang saat ini menjadi kepala pemerintahan,” paparnya.

Fakta tersebut, tandas Agung, cukup menarik dan menjadi satu alasan bahwa Surabaya masih membutuhkan figur perempuan untuk menjadi pemimpin.

“Ini bukan mengada-ada, tapi fakta yang kita lihat dari temuan-temuan riset ataupun data yang ada,” ucap kepala Divisi Penelitian LP3ES 2005-2007 tersebut.

Pilih yang Rajin Penyapaan

JAWA TIMUR TERBANYAK: Jatim terbanyak menyumbang perempuan pemimpin pemerintahan diIndonesia. | Foto: Barometerjatim.com/WEBINAR
JAWA TIMUR TERBANYAK: Jatim terbanyak menyumbang perempuan pemimpin pemerintahan diIndonesia. | Foto: Barometerjatim.com/WEBINAR

Sementara Sekretaris DPD Lingkaran Pendamping Program Pemberdayaan (LPPP) Surabaya, Siti Nafsiyah menuturkan, gaya kepemimpinan Risma yang blusukan, melayani, dan mengayomi warganya, ini yang harus diteruskan wali kota berikutnya.

“Karakter dan gaya kepemimpinan seperti ini, biasanya memang sangat dekat dengan perempuan. Apalagi persoalan di Surabaya sangat kompleks, yang membutuhkan gaya kepemimpinan transformatif,” ujarnya.

Itu artinya, ucap Nafsiyah, Surabaya memang masih membutuhkan sentuhan pemimpin perempuan. “Secara peribadi selaku perempuan dan selaku warga kota, memandang bahwa ya masih dibutuhkan seorang pemimpin perempuan,” jelasnya.

Tapi karena peta politik Pilwali Surabaya 2020 sudah terfragmentasi dan rata-rata calon wali kota yang muncul ke permukaan adalah laki-laki, maka siapa pun calon wali kotanya harus menampilkan wakil dari figur perempuan.

“Siapa dia? Itu terserah kepada para calon wali kota yang muncul, tetapi tentunya tak lepas dari figur calon wakil perempuan yang sudah turun ke bawah, melakukan penyapaan ke masyarakat,” katanya.

BUTUH PEREMPUAN: Siti Nafsiyah, kalau semua Cawali laki-laki maka calon wakilnya harus perempuan. | Foto: Barometerjatim.com/ANDRIANSYAH
BUTUH PEREMPUAN: Siti Nafsiyah, kalau semua Cawali laki-laki maka calon wakilnya harus perempuan. | Foto: Barometerjatim.com/ANDRIANSYAH

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya