Pengamat: Machfud Tanpa Basis Data, Hanya Pandangan Mata!

PILWALI SURABAYA: Eri Cahyadi-Armuji jawab setiap pertanyaan Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno dengan data. | Foto: IST/JTV
PILWALI SURABAYA: Eri Cahyadi-Armuji jawab setiap pertanyaan Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno dengan data. | Foto: IST/JTV

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengamat Politik asal UPN Veteran Surabaya, Catur Suratnoaji menilai debat publik perdana Pilwali Surabaya, Rabu (4/11/2020) malam berlangsung atraktif dengan keunggulan pasangan nomor satu, Eri Cahyadi-Armuji.

“Kalau misalnya dikasih skor ya 80 Vs 78 lah untuk keunggulan pasangan Eri-Armuji. Keduanya terlihat tenang meski secara terus menerus diserang. Keduanya terlihat cukup menguasai permasalahan serta solusi untuk Surabaya,” kata Catur.

Terlebih, lanjut Catur, upaya pasangan nomor dua, Machfud Arifin-Mujiaman dalam menyerang Eri-Armuji tak berbasis data. “Saya melihat pasangan Machfud Arifin-Mujiaman tidak begitu menguasai data,” nilai Catur.

Dia menyebut beberapa kali Machfud memberikan pertanyaan yang tidak berbasis data, tapi lebih banyak didasari pandangan mata atau dalam bahasanya blusukan.

“Secara metodologis, pandangan mata itu tidak bisa dipertanggungjawabkan, bisa menjadi bias. Seharusnya dengan data,” tegasnya.

Pertanyaan-pertanyaan tanpa data dari Machfud-Mujiaman, lanjut Catur, hanya bersifat menyerang untuk menjatuhkan lawannya saja. Mencoba membingkai sebuah pekerjaan dengan kegagalan.

“Apakah benar yang disebutkan berdasar pandangan mata itu sesuai fakta secara keseluruhan? Itu persoalannya,” tegas Catur.

Surabaya 0% Kumuh

TAMPIL TENANG: Eri Cahyadi dan Armuji, tampil tenang tapi kaya data dalam debat perdana Pilwali Surabaya. | Foto: IST/JTV
TAMPIL TENANG: Eri Cahyadi dan Armuji, tampil tenang tapi kaya data dalam debat perdana Pilwali Surabaya. | Foto: IST/JTV

Di panggung debat, Eri juga menegaskan tidak bisa menilai persoalan hanya dari pandangan mata, tapi mesti berbasis data. Hal itu dilontarkannya saat menjawab pertanyaan dan pernyataan Machfud-Mujimana terkait kawasan kumuh.

“Yang terpenting mengenai kawasan kumuh adalah masalah banjir. Ternyata kampung-kampung baru punya saluran tetapi tidak terhubung dengan saluran besar,” kata Mujiaman.

“Ini harus kita berikan bantuan Rp 150 juta per RT, untuk memastikan mereka bisa membangun kampung masing-masing,” sambung mantan Dirut PDAM Surya Sembada Surabaya itu.

Menanggapi hal tersebut, Eri yang tampil begitu tenang menuturkan, Surabaya berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Cipta Karya, tingkat kumuhnya sudah nol persen.

“Karena kumuh itu ada faktor-faktor lain yang dihitung. Tidak hanya satu, hanya pandangan mata langsung,” tandasnya.

Bukti lain, beber Eri, Surabaya mendapat Adipura Kencana lima kali berturut-turut. Bahkan mendapat pengakuan internasional dari Lee Kwan Yew terkait Surabaya kota layak huni.

“Kita juga tahu Surabaya mendapat 30 penghargaan internasional, 286 penghargaan nasional. Ini menunjukkan, sebenarnya data itu yang bicara,” tegas Eri.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya