Merasa Bisa Sendiri, Khofifah Minta PLMDH Tak Sombong!

RAKOR PLMDH: Khofifah, ingatkan PLMDH jangan sombong bisa sendiri tanpa kedepankan kolaborasi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
RAKOR PLMDH: Khofifah, ingatkan PLMDH jangan sombong bisa sendiri tanpa kedepankan kolaborasi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

MALANG, Barometerjatim.com – Rakor Perkumpulan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (PLMDH) di Graha Cemara, Coban Rondo, Malang, Senin (7/9/2020) yang seharusnya menjadi forum mencari solusi, berubah menjadi ajang ‘kebablasan’ Ketua PLMDH Jatim, Nur Rohim.

Di hadapan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa yang membuka rakor, Nur Rohim berkeluh kesah soal kesulitan pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga merasa bisa sendiri untuk menyelesaikan problem yang ada.

“Kita dari dulu masyarakat desa hutan disiksa oleh pupuk. Kenapa? Karena kita juga butuh pupuk untuk memupuk tanaman agar kita bisa mempertahankan pangan,” katanya.

Kalaupun tak dikasih pupuk, kata Nur Rohim, masyarakat desa hutan minta diajari membuat pupuk sendiri. “Enggak apa-apa. Ajari kami mandiri, buat pupuk sendiri, buat pabrik sendiri. Kami lebih suka itu daripada kami dikasih-kasih gitu saja,” katanya.

Bahkan jika dipercaya membuat pupuk, Nur Rohim menyebut masyarakat desa hutan sudah punya ahlinya, serta pengusaha-pengusaha untuk membuktikan mereka bisa menjadi opteker (penyedia barang)  beberapa usaha di kehutanan.

Selebihnya, Nur Rohim menyebut masyarakat desa hutan juga perlu mendapat pendampingan. “Jangan dibiarkan! Kami masyarakat desa hutan itu sudah biasa sendiri, masa kita tidak didampingi,” katanya.

Menanggapi curhat dan ‘tantangan’ Nur Rohim yang merasa masyarakat desa hutan bisa sendiri, Khofifah menuturkan apa yang tersampaikan mulai kesulitan pupuk dan sebagainya agar diurai dalam rakor.

“Kalau rakor mungkin kita enggak banyak ngomong. How to solve the problem. Kalau tadi ada yang mempersoalkan lembaga mana, lembaga mana, ada regulasi,” kata Khofifah.

“Jadi Cak Nur Rohim, tolong panjenangan identifikasi semua yang tadi disampaikan. Address-nya kemana itu saya nggak ngerti,” tandas gubernur yang juga ketua umum PP Muslimat NU tersebut.

“Jangan pernah merasa sendiri, kita mencoba membangun kolaborasi. Jadi cabut omongan panjenengan.”

Khofifah mencontohkan soal permohonan bantuan pupuk maupun alsintan. “Mosok ndak ngeti (masa tidak tahu), pupuk itu siapa yang mengusulkan. Jadi jangan semua dilimpahkan di sini,” katanya.

Sebab, jelas Khofifah, untuk masuk ke RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) bukan kewenangan Pemprov Jatim. “Supaya anda juga tahu kalau kita sudah lakukan koordinasi, cocok-cocokannya tolong diurai di sini,” katanya.

Kalau semua unek-unek ditumpahkan tanpa disertai idektifikasi, menurut Khofifah, nanti selesai rakor yang terjadi cuma gremeng-gremeng alias hanya jadi omongan tanpa solusi.

“Ini bukan forum gremeng-gremeng, karena saya sudah menerima anda di Grahadi. Saya pikir sudah agak sistematik. Kalau ini menjadi tempat curhat, kalau pulang (setelah rakor) itu tidak ada identifikasi,” ucapnya.

Khofifah minta rakor PLMDH ini digelar, karena rakor untuk sektor lainnya sudah selesai digelar, termasuk terkait petanian dan sosial.

Tanah Saja Milik Perhutani

HARUSNYA CARI SOLUSI: Rakor PLMDH, ajang penyelesaian masalah berubah menjadi curhat soal pupuk. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
HARUSNYA CARI SOLUSI: Rakor PLMDH, ajang penyelesaian masalah berubah menjadi curhat soal pupuk. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Dari rakor berbagai sektor ini, diharapkan mendapatkan cara untuk menurunkan kemiskinan di perdesaan. Jika sudah ketemu cara penurunan kemiskinan, maka pemerintah akan melakukan beragam intervensi.

“Jadi mohon jangan sombong-sombong. Ini yang ngomong saya, kita bisa sendiri, lha wong tanah lho weke (milik) Perhutani. Nah, ini enggak benar anak muda ini, enggak baik!” tegasnya.

Menurut Khofifah, yang dibutuhkan saat ini adalah kolaborasi. Lagi pula, mantan Menteri Sosial itu sering bersama masyarakat desa hutan, termasuk tahu para perempuannya yang menghasilkan produk luar biasa.

“Jangan pernah merasa sendiri, kita mencoba membangun kolaborasi. Jadi cabut omongan panjenengan (yang menyebut) kita ini sendiri pun mampu, tidak! Wong tanah weke Perhutani kok,” ujarnya.

Karena itu, suasana yang terbangun harusnya kebersamaan. Rakor digelar untuk menyocokan pikiran, program, supaya ketemu langkah paling strategis untuk menyelesaikan kemiskinan di perdesaan dari titik mana.

“Terima kasih, teman-teman PLMDH ini adalah pelaku ketahanan pangan yang luar biasa. Saya ingin Pak Oman (Kadivre Perhutani Jatim, Oman Suherman) bersama teman-teman PLMDH membantu membuat peta lebih detail,” pinta Khofifah.

AJANG CURHAT: Nur Rohim, berkeluh kesah soal kesulitan pupuk hingga alsintan dalam Rakor PLMDH. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
AJANG CURHAT: Nur Rohim, berkeluh kesah soal kesulitan pupuk hingga alsintan dalam Rakor PLMDH. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

» Baca Berita Terkait Masyarakat Desa Hutan