Lontaran Gus Ali: Chairul Tanjung Layak Jadi Ketum PBNU

CT LAYAK KETUM PBNU: KH Agoes Ali Mashuri (Gus Ali) sebut Chairul Tanjung layak menjadi ketua umum PBNU. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
CT LAYAK KETUM PBNU: KH Agoes Ali Mashuri (Gus Ali) sebut Chairul Tanjung layak menjadi ketua umum PBNU. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), KH Agoes Ali Mashuri menyebut Chairul Tanjung (CT) yang berlatar belakang pengusaha besar layak menjadi ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pernyataan kiai yang akrab disapa Gus Ali itu terlontar, saat memberi arahan kepada pengurus PCNU se-Jatim yang menghadiri konferensi pers persiapan kirab santri dan istighotsah kubro yang digelar PWNU Jatim, Kamis (11/10).

Saat ditanya wartawan usai acara, Gus Ali menuturkan, lontarannya tersebut hanya untuk membuka wawasan pengurus cabang yang hadir di acara tersebut. Tak ada maksud lain, misalnya penggiringan opini untuk mengolkan salah seorang kandidat di Muktamar NU 2020. Tidak!

• Baca: Konfercab PCNU Lamongan, Kiai Marzuki Cium Merah Putih

“Membuka wawasan saja. Saya kan briefing orang cabang, supaya mereka punya wawasan yang go international. Bukan wawasan sempit tingkat RT,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Progresif Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo itu lantas menjelaskan. “Jadi gini lho, orang-orang NU sudah waktunya untuk berjuang menjadi sebuah organisasi yang mandiri,” katanya.

Kemandirian itu bisa terwujud, tandas Gus Ali, manakala orang-orang NU punya basic kemapanan secara ekonomi. Dia mengistilahkan ‘selesai dengan diri sendiri’ alias tidak menggantungkan pada kekuatan lain.

• Baca: Duet Kiai Salim-Supandi Pimpin PCNU Lamongan 2018-2023

“Sedangkan saya menyebut salah satu nama, beliau (CT) seorang pengusaha muslim yang hari ini termasuk 10 orang besar, terkaya di Indonesia yang orang pribumi adalah beliau,” jelasnya.

Jika mengacu Hasan Gipo (Ketum PBNU pertama yang mendampingi Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari) bukankah itu memungkinkan?

• Baca: Banser Dukung Fandi Utomo, NU Kian Terseret Politik Praktis

“Jelas! Beliau (Kiai Hasyim Asy’ari) sebagai rais akbarnya dan tanfidziyahnya Hasan Gipo, itu bukan ketepatan dan kebetulan. Sebuah ijtihad yang cerdas, bahwa organisasi tidak bisa dipimpin dalam satu perspektif keahlian,” paparnya.

Tidak mungkin, misalnya, kata Gus Ali, semua ahli fikih dikumpulkan untuk membuat organisasi, tidak bisa! “Butuh ada yang mengerti IT, manajemen, artinya saling melengkapi. Sebab organisasi itu adalah kumpulan untuk mencapai tujuan dan cita-cita bersama,” jelasnya.

Tiga Kemapanan

BERLATAR BELAKANG NU: Chairul Tanjung, pengusaha besar muslim yang disebut Gus Ali berlatar belakang Nahdlatul Ulama. | Foto: IST
BERLATAR BELAKANG NU: Chairul Tanjung, pengusaha besar muslim yang disebut Gus Ali berlatar belakang Nahdlatul Ulama. | Foto: IST

Kemapanan secara ekonomi (terutama basis pangan) tersebut, tambah Gus Ali, merupakan poin kedua dari tiga hal yang menjadi dasar untuk mewujudkan kemandirian organisasi agar bertahan lama, tahan banting, serta tidak mudah dipatahkan oleh kekuatan lain.

Sedangkan poin pertama yakni basic kemapanan ideologi, dan poin ketiga yakni memiliki akar kekuatan budaya. “Ketiga-tiganya ini NU punya, tinggal dioptimalkan saja,” tegasnya.

Tapi apakah background CT memang NU? “NU toh! NU! Siapa mengatakan bukan NU,” tegasnya, sembari menambahkan selain CT sebenarnya banyak pengusaha besar muslim di Jakarta yang ubudiyahnya NU dan pengurus NU tidak tahu kalau sebenarnya mereka itu orang-orang NU.

• Baca: Pemilu 2019, Kiai Ma’ruf Ajak Warga NU Rujuk Kembali ke PKB

“Mengapa bisa begitu? Karena formatur yang memilih itu orang-orang organisasi, yang link-nya ya hanya orang-orang itu. Tidak tahu yang di luar. Jadi komunitas itu saja,” katanya.

Sekadar tahu, pemilihan Ketum PBNU baru akan digelar pada 2020 lewat ajang muktamar. Ketum PBNU saat ini, KH Said Aqil Siroj juga memastikan tak akan maju lagi. Hal itu disampaikannya saat Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU Jatim di Lirboyo, Kediri, 28 Juli 2018.

“Cukup dua periode lah. Silakan siapkan pengganti saya tahun 2020, yang lebih cerdas. Lebih pinter daripada Gus Dur. Cari! Harus lebih cerdas daripada Gus Dur, harus lebih cerdas daripada saya, karena nanti tantangannya lebih besar, lebih berat!” katanya.

» Baca Berita Terkait PBNU, PWNU Jatim, Nahdlatul Ulama