Banser Dukung Fandi Utomo, NU Kian Terseret Politik Praktis

'TERLALU PAGI': (Dari kiri) Ketua PKB Surabaya Musafak Rouf, Fandi Utomo dan Farid Afif. NYatakan dukungan di Pilwali Surabaya 2020. | Foto: IST
‘TERLALU PAGI’: (Dari kiri) Ketua PKB Surabaya Musafak Rouf, Fandi Utomo dan Farid Afif. Nyatakan dukungan di Pilwali Surabaya 2020. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Unsur Nahdlatul Ulama (NU) kembali menceburkan diri ke dalam dinamika politik praktis, bahkan lebih dini. Meski Pilwali Surabaya 2020 masih dua tahun lagi, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Surabaya sudah menyatakan kesiapannya mengawal langkah PKB mendukung Fandi Utomo.

Bagi Pengamat Politik asal Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Mochtar W Oetomo, selain ‘terlalu pagi’, dukungan yang disampaikan Panglima Banser sekaligus Ketua PC Ansor Surabaya, Farid Afif dikhawatirkan memantik antitesis dari Badan Otonom NU lainnya.

“Saya rasa bukan soal besar atau tidaknya kekuatan Banser. Sebesar atau sekecil apapun setiap entitas politik, pasti memiliki peran strategis. Tapi lebih substansial jika statement ini memantik antitesis, munculnya statement berlawanan dari Banom NU lainnya yang mendukung calon lain,” paparnya, Senin (1/10).

• Baca: Pengamat: PKB-Fandi Utomo Bisa Dianggap “Nggege Mongso”

Hari ini Banser mendukung Fandi Utomo, tapi Fatayat NU bisa jadi mendukung kandidat lain, begitu pula Muslimat NU. Belum lagi barisan NU struktural dan kultural yang bisa jadi berlainan dukungan.

Jika dukung mendukung itu hanya terhenti di statemen, lanjut Mochtar, mungkin tidak masalah karena sudah jamak kalau warna NU selalu bhinneka dalam politik. Termasuk, bahwa NU selalu memiliki mekanisme kultural untuk kembali ke tempatnya, juga sudah diakui bersama.

“Tapi ketika statement dengan antitesisnya kian meruncing dan mengarah pada benturan praktis, itu yang dikawatirkan semua pihak,” tandasnya.

“Publik tidak ingin NU dan para masyayikh kehilangan marwahnya, hanya karena terjebak suka cita mainan anak kecil.”

Mochtar menegaskan, NU memang kian nyata terseret dinamika politik praktis sejak Pilgub Jatim 2018 yang disusul kontestasi Pilpres 2019.

Diakui atau tidak, diterima atau tidak, tandasnya, dua moment politik ini telah menyeret hampir segala unsur tubuh NU dalam dinamika politik praktis. Baik sebagai oknum individu maupun entitas kelembagaan hingga Banomnya.

“Maka tidak heran, jika jauh hari sebelum kontestasi Pilwali Surabaya 2020 sudah muncul statement politik praktis bahkan pragmatis, apakah dari entitas invidu ataupun entitas kelembagaan,” paparnya.

• Baca: Isu Fandi Utomo Cawali, Pekerjaan Berat PKB di Surabaya

Namun banyaknya kritik terhadap NU atas berbagai sikap dan tindakan politiknya akhir-akhir ini, menurut Mochtar, hal itu sebagai bukti kasih sayang publik terhadap NU.

“Publik tidak ingin NU dan para masyayikh kehilangan marwahnya, hanya karena terjebak suka cita mainan anak kecil,” tegasnya.